Khotbah Jumat 4 Agustus 2017

Hari Jumat bagi umat Islam identik dengan shalat Jumat, yang tentu tidak terpisahkan dengan khotbahnya. Berikut tweet khotbah jumat yang dibagikan melalui akun Twitter @jumatan_org pada hari Jumat, 4 Agustus 2017:

1-#khotbah jumat hari ini yg di dapat.

Salah satu yg menghambat jalan menuju syurga adalah “memutuskan tali silaturahmi” | @AuzBeibbMyCute

2-Akhlak yang baik adalah tidak mengganggu orang lain, menolong sesama, dan wajah yang berseri-seri. #khotbah #khotbahJumat | @fajar_nyb

3-Kamu akan bahagia dg caramu. Tak perlu iri&dengki, tiap manusia punya cara&kisah bahagianya sendiri2. #khotbah

#khutbahJumat | @rochim_thole

4-Hati yg keras adalah yg tidak bisa menerima kritikan dan merasa dirinya paling benar. #khotbah #KhutbahJumat | @kiki_zbenk

5-Khutbah Jumat: Jangan biarkan kebencian menyanderamu hingga engkau tidak bebas berbuat kebaikan. #khotbah | @KMurthadi11

6-Petikan khutbah jumaat:

“Apabila hati sudah gelap, perkara baik dipandang buruk dan perkara buruk dipandang baik.” #khotbah | @adham_gtg

7-Malu itu sebahagian dari iman.

-Khutbah Jumaat #khotbah | @hanifazri

8-Dunia akan kokoh dg 4 pilar:

  1. Ilmunya ulama
  2. Pemimpin yg adil&amanah
  3. Demawannya org kaya
  4. Doanya Fakir miskin

#khotbah | @picoez 4

9-Shalat adalah bukti bahwa seseorang itu beriman. (Ust.Yusuf Siddik)

*khutbah Jumat ini di Masjid Istiqlal

#JumatBerkah #khotbah | @Asnidar1

Bagi yang ingin ikut berbagi pesan khotbah di masjid masing-masing, bisa ditwit tiap Jumat dengan tagar #khotbah dan me-mention @jumatan_org, ya. Semoga bermanfaat untuk menambah semarak dan keberkahan Jumat dengan pesan-pesan kebaikan.

Ma Huwa al-Islam?

Apa itu Islam, atau ma huwa al-Islam dalam Bahasa Arab?

Dari kecil kita mengetahui bahwa Islam adalah Din atau dien, دين (Bahasa Arab) yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW. untuk kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Perlu ditambahkan pula, bahwa Islam adalah agama yang sangat mendukung, menganjurkan, memfatwakan, mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang profesional.

Seperti termaktub dalam surat Al-Qasas Ayat 26:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Syarat pekeja yang baik, menurut ayat di atas adalah:
Al Qowi, yaitu kuat di dalam menjalankan tugasnya, dalam apa yang diurusnya. Kekuatan disini mencakup kekuatan ilmu, profesional dalam bidangnya, sebagaimana kata ”Alim” dalam surat Yusuf.
Al Amin, berarti orang yang bisa menjaga amanat, dan terpercaya. Ini sesuai dengan kata ”Hafidh” dalam surat Yusuf.

Jadi al-Qur’an disini mengungkap bahwa sebagian tanda orang yang disebut muslim atau mukmin adalah menjadi pekerja keras, profesional, jujur sesuai etika bisnis dan etika pekerjaan.

Indikator baiknya Islam kita, keberimanan kita diantaranya adalah “apakah kita profesional dalam pekerjaan kita.”

Kata Islam berasal dari bahasa Arab aslama, yuslimu islaman yang berarti damai. Dari namanya saja kita mengetahui bahwa Islam adalah agama yang bertujuan, punya peran dasar, memiliki prinsip kedamaian. Lalu bagaimana bila ada yang mengaitkannya dengan, mengapa ada perang dalam Islam?

Perang disampaikan hanya dalam kondisi tertentu, dalam kondisi terdesak atau umat Islam diserang. Dan itu dilakukan untuk mempertahankan diri, mempertahankan keislamannya, maka jihad perlu dilakukan untuk kebutuhan itu. Namun tetap, pesan dasar Islam yang paling kuat adalah damai.

Rasul pernah bersabda : “Al-Muslimu man salima al-muslimuuna min lisaanihi wa yadihi”, seorang muslim (siapapun dia orangnya) dan orang-orang Islam lainnya merasa damai dari kejahatan tangan dan lisannya, yang artinya pula yang di katakan orang muslim ialah orang yang tidak mengganggu orang lain, dia membawa kedamaian ditengah-tengah muslim lainnya.

[x_pullquote cite=”Dr. Ali Mursyid, MA” type=”left”]Namun tetap, pesan dasar Islam yang paling kuat adalah damai.[/x_pullquote]Lalu dalam hadits lain kita juga menemukan “dari Abdullah bin Amru bahwa seorang laki-laki bertanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Kamu memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal” (HR MUSLIM NO 56)”.

Jadi praktik keislaman yang baik adalah menguatkan pemberdayaan ekonomi, seperti yang tersirat pada hadits di atas, yakni memberi makan (تُطْعِمُ الطَّعَامَ) kepada orang yang tidak engkau kenal, memberi modal kepada mereka yang membutuhkan. Dan yang kedua adalah memberikan salam ( َتَقْرَأُ السَّلَام), itu artinya menebarkan kedamaian kepada orang yang engkau ketahui, misalnya karena satu agama, satu kantor, satu komplek. Dan memberikannya kepada orang yang tidak engkau ketahui.

Dan dalam sebuah ayat disebutkan pula “Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Ingat, disitu tidak disebut untuk menjadi rahmat bagi umat Islam, namun bagi semesta alam, bagi seluruh umat di dunia. Inilah sesungguhnya, pesan yang mendasar dari agama Islam. Ciri orang yang beragama Islam, tentunya apakah ia berbuat baik bagi orang lain.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Jadi beriman atau berIslam kita tandanya adalah, yang pertama : muslim melakukan kerja keras, yang kedua adalah muslim yang membawa kedamaian.


Disampaikan oleh Dr. Ali Mursyid, MA untuk Jumatan.org pada 28 Juli 2017 di Bellagio Mall, Kuningan, Jakarta

Khotbah Jumat 28 Juli 2017

Hari Jumat bagi umat Islam identik dengan shalat Jumat, yang tentu tidak terpisahkan dengan khotbahnya. Berikut tweet khotbah jumat yang dibagikan melalui akun Twitter @jumatan_org pada hari Jumat, 28 Juli 2017:

1-Bagus nih #khotbah Jumatnya, toleransi keberagaman di Madinah jaman nabi. | @AlfiandoKrishna

2-Intinya dari #khotbah tadi adalah sodaqoh. Jadi bersodaqoh lah yg bermanfaat. |

@AhmadArioSadewo

3-Ciri orang beriman salah satunya adalah berinfaq, kerana sebagian daripada harta kita, terdapat harta org lain #khotbah Jumat |

@fajar_nyb

4-Bersegera tapi jangan tergesa-gesa…

Memperhitungkan tapi bukan menunda…

#khutbahJumat #khotbah | @rochim_thole

5-“Manusia hanya bisa berusaha dan berharap kepada Allah, namun Allah jualah yang menentukan”. – #khotbah dari masjid deket rumah | @ayunideyu

6-Tetaplah Meningkatkan Amal Sholeh Walau Bukan di Bulan Ramadhan #khutbahjumat #khotbah | @ikintasrikin

Bagi yang ingin ikut berbagi pesan khotbah di masjid masing-masing, bisa ditwit tiap Jumat dengan tagar #khotbah dan me-mention @jumatan_org, ya. Semoga bermanfaat untuk menambah semarak dan keberkahan Jumat dengan pesan-pesan kebaikan.

Jihad Melawan Korupsi

Dalam bahasa Arab, korupsi sering disebut dengan kata fasad, atau terkadang juga disebut ifsad. Fasad artinya ‘kerusakan’, sedangkan ifsad artinya ‘perusakan’ atau tindakan merusak. Korupsi disebut demikian karena memang dampak buruknya amat luas merusak sendi-sendi kehupan masyarakat dan bangsa.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah dengan tegas melarang kita melakukan perusakan, termasuk di dalamnya tentu saja korupsi. Allah berfirman, “Janganlah kamu melakukan perusakan di bumi setelah Allah membuatnya baik.” (QS al-A’raf: 56). Pada ayat lain, Allah menyuruh kita untuk berbuat sesuatu yang berdampak memperbaiki kerusakan. “Berbuat baiklah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang perusak.” (QS al-A’raf: ..).

Sebagian pakar, seperti Prof. Kuntjorodiningrat dan Faisal Ismail, menilai bahwa salah satu faktor penting yang membuat seseorang melakukan tindakan korupsi adalah ketidakmampuan menahan diri dan nafsu. Nafsu ingin berkuasa atau mempertahankan kekuasaan, dan hal itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, lalu seseorang ambil jalan pintas melakukan korupsi. Nafsu untuk menikmati dan mengikuti perkembangan gaya hidup yang materialustik-hedonis, seseorang akhirnya berani melakukan tindak korupsi.

Menahan, menahan diri dan menahan nafsu, dengan dapat dikatakan merupakan kata kunci dalam kita beragama.

– Menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan, padahal itu semua pada dasarnya boleh, merupakan bagian dari menjalankan agama yang kita kenal dengan istilah puasa.
– Menahan diri untuk tidak marah kepada orang yang bersalah, walaupun kita benar. Salah satu pesan penting Nabi saw. kepada sahabatnya, adalah “Jangan marah.!” Pada hadis lain, Rasulullah saw. juga berpesan, “Orang kuat atau orang tegas bukanlah orang yang bisa meninju atau memukul, orang kuat justru adalah orang yang mampu menahan diri ketika sedang marah.”
– Menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain, tetangga ataupun teman, sahabat ataupun kerabat, adalah bagian penting dari keberagamaan kita.
– Menahan diri untuk tidak berbohong atau menipu.
– Menahan diri untuk tidak mengambil hak orang lain secara tidak benar.
– Menahan diri untuk menerima apa pun pemberian Allah kepada kita. Dan sebagainya.

Jika demikian, maka sebenarnya pemberantasan korupsi dapat kita lakukan dari dan melalui diri kita sendiri. Semakin mampu kita menahan diri dari nafsu-nafsu tersebut, semakin besar kemungkinan kita untuk terhindar dari tindak korupsi. Semakin banyak orang yang mampu menahan diri dan nafsunya, semakin besar peluang kita untuk menekan angka korupsi di negeri ini.

Upaya-upaya memerangi korupsi dengan memberi sanksi hukum berat itu perlu, tetapi tidak kalah pentingnya adalah menahan diri kita masing-masing dari nafsu kekuasaan, hidup hedonus-materialistis. Semoga dengan begitu, tingkan korupsi di negeri ini benar-benar bisa kita tekan.


Disampaikan oleh Ust. Muhammad Arifin, MA untuk Bellagio Mall pada 21 Juli 2017.

Khotbah Jumat 21 Juli 2017

Hari Jumat bagi umat Islam identik dengan shalat Jumat, yang tentu tidak terpisahkan dengan khotbahnya. Berikut tweet khotbah jumat yang dibagikan melalui akun Twitter @jumatan_org pada hari Jumat, 21 Juli 2017:

1-Saling mencintailah kalian karena ALLAH, sebab nantinya org yg mencintai krn ALLAH akan dikumpulkan sesamanya.

-Kutipan #khotbah | @zheno21

2-Isi #khotbah Jumat tadi bagus, mengingatkan bahwa tidak baik kita sering marah-marah. | @trianlesmana19

3-Belajar memaafkan tanpa harus menunggu mereka yang menzolimi-mu meminta maaf terlebih dahulu itu mulia.

-#khotbah jumat- | @i_dhimas

4-#khotbah Jumat: Sesama hamba beriman, kita mesti saling mengingatkan; saling memaafkan; dan saling mendoakan. | @KMurthadi11

5-Kl tdk bisa menyenangkan org, minimal jgn menyusahkan. Kl tdk bisa memuji org, minimal jgn mencaci. #khotbah #KhutbahJumat | @junanto

6-Lindungilah dirimu dari godaan syaitan, syaitan jauh lebih tua dari manusia. #khotbah | @Yudhi_0103

7-#khotbah hari ni ialah pasal kematian & alam seterusnya. Satu peringatan yang menggetarkan hati. | @shafiqderahman

Bagi yang ingin ikut berbagi pesan khotbah di masjid masing-masing, bisa ditwit tiap Jumat dengan tagar #khotbah dan me-mention @jumatan_org, ya. Semoga bermanfaat untuk menambah semarak dan keberkahan Jumat dengan pesan-pesan kebaikan.

Merawat Kebhinekaan untuk Kemaslahatan

Tidak ada yang ragu bahwa al-Qur’an adalah rujukan bersama umat Islam. Al-Qur’an adalah referensi umat Islam dalam menjalani kehidupannya di dunia ini. 1400 tahun yang lalu al-Qur’an turun kepada baginda Rasulullah SAW. hanya turun kepada satu pribadi nabi, tapi bukan untuk menyelesaikan persoalan pribadi nabi. Al-Qur’an hadir di permukaan bumi ini untuk menyelesaikan problem seluruh umat manusia. Itu sebabnya al Qur’an Nur Karim yang terdiri dari 6300-an ayat, seribu lebih tafsir-tafsir terhadap al-Qur’an Nur Karim ada 30 juz, mengandung sejumlah bidang-bidang yang dibutuhkan oleh umat Islam.

Di dalam al-Qur’an ada ayat yang berbicara mengenai akidah, akhlak, sejarah -bahkan al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai panduan hidup umat Islam ketika di dunia- tetapi al-Qur’an juga berbicara mengenai hal-hal tentang kehidupan setelah kematian. Dibanding dengan sekian ribu ayat-ayat al-Qur’an, yang berbicara mengenai hukum, diperkirakan hanya 400 ayat. Imamul Haramain berkata bahwa ayat yang berbicara mengenai hukum tidak lebih dari 600 ayat.

Umat Islam tidak boleh melupakan disamping ada ayat yang berbicara mengenai hukum dalam al-Qur’an, tapi juga ada ayat-ayat yang lain. Yang berbicara mengenai akhlak, ilmu pengetahuan, itu sebabnya umat Islam tidak boleh menjadi sekelompok komunitas yang anti terhadap ilmu pengetahuan. Karena al-Qur’an justru mendorong agar umat Islam menjadi bagian dari komunitas pecinta ilmu pengetahuan.

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,
Sekian lama al-Qur’am turun kepada umat Islam, diterima oleh umat Islam, tetapi tafsir umat Islam terhadap al-Qur’an tak bisa tunggal. Al-Qur’an yang kita pahami, kita tafsirkan, potensial diperselisihkan oleh para ulama. Walaupun kita juga harus tahu, ada bagian-bagian dalam Islam yang disepakati oleh para ulama sebagai sebuah konsensus. Wajibnya umat Islam melaksanakan salat 5 waktu dalam sehari semalam disepakati oleh seluruh ulama sejak zaman dahulu sampai akhir zaman. Tapi bagaimana cara umat Islam menyelenggarakan salat, bisa berbeda antara satu kelompok umat Islam dengan kelompok umat Islam yang lain.

Mulai bacaan doa iftitah-nya, yang terdiri dari 13 macam variasi bacaan doa iftitah, mulai cara tasyahud-nya, mulai cara rukuk-nya, cara bersedekapnya, perbedaan-perbedaan seperti ini tak mungkin kita konsensuskan, kita ijma-kan. Wajibnya mengeluarkan zakat bagi umat Islam dikonsensuskan oleh para ulama, tetapi bagaimana tata cara mengeluarkan zakat, barang apa yang wajib disepakati, bagian-bagiannya ada yang diperselisihkan oleh para ulama.

Wajibnya menutup aurat, baik bagi laki-laki maupun perempuan, disepakati oleh seluruh ulama. Tetapi dimana batas aurat bagi perempuan, ada yang diperselisihkan oleh para ulama. Wajibnya melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu disepakati oleh para ulama. Namun ada bagian-bagian dalam ibadah haji yang potensial diperselisihkan oleh para ulama. Belakangan kita menyaksikan, terjadi konflik dan perdebatan yang tidak produktif di lingkungan umat Islam, bersengkata karena urusan-urusan furu’iyah yang tak mungkin dikonsensuskan. Sehingga energi umat Islam habis untuk mendebatkan sesuatu yang sampai akhir zaman tak mungkin disepakati. Itu sebabnya ukhuwah Islamiyah menjadi penting. Kekompakan umat Islam menjadi penting. Al-Qur’an adalah rujukan utama umat Islam. Metodologi untuk membaca al-Qur’an berbeda antara satu ulama dengan ulama lain.

Itu sebabnya metodologi menafsirkan ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an terbagi dalam 3 jenis kategori. Ada yang disebut metodologi as Syafi’iyah yang dibangun Muhammad bin Idris (150-204 H). Ada yang ditulis oleh mazhab Maliki, ada yang ditulis oleh Ahmad bin Hanbal, mazhab Hanafi dan begitu seterusnya. Persengketaan-persengketaan yang ada di internal umat Islam, tidak menyentuh esensi ibadah agama. Perbedaan yang terjadi di lingkungan umat Islam adalah perbedaan partikular, bukan perbedaan yang pokok. Yang pokok itu adalah yang disepakati.

Jika 30 juz dalam al-Qur’an itu diperas dan diringkas, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, intinya ada pada 3 hal. Yang pertama adalah perintah untuk menegakan keadilan, perintah untuk menyebarkan kemaslahatan, perintah untuk terus mengkampanyekan hikmat kebijaksanaan. Itulah pokok-pokok ajaran kita yang terdapat dalam al-Qur’an Nur Karim. Tapi bagaimana keadilan itu ditegakan, sebagiannya dicontohkan dalam al-Qur’an tetapi sebagian besar yang lain merupakan hasil ijtihad para ulama. Sejak jaman dahulu sampai akhir jaman, tak boleh berhenti aktifitas kerja untuk menafsirkan al-Qur’an sebagai rujukan utama umat Islam.

Itu sebabnya di Indonesia ada beragam organisasi keislaman. Ada Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, Jamiat Kheir, dan banyak ormas-ormas Islam di Indonesia. Perselisihan yang terjadi diantara umat Islam, tidak menyentuh esensi ajaran agama karena perbedaannya hanya bersifat partikular, bukan pada perbedaan yang pokok. Ukhuwah Islamiyah inilah yang belakangan berkurang di internal umat Islam. Tidak ada toleransi, kerjasama yang baik, antara umat Islam, tak terkecuali negara-negara di Timur Tengah. Ada Syiria, Pakistan, Afghanistan, Mesir dan lain sebagainya.

Indonesia, kita masih beruntung. Ada ulama-ulama yang menjadi rujukan umat Islam, yang tergabung (terutama) dalam organisasi-organisasi besar, sehingga persatuan diantara umat Islam masih cukup terasa di internal umat Islam di Indonesia. Bahwa terjadi perbedaan, memang perbedaan itu tak bisa dihindari. Karena perbedaan itu merupakan sunnatullah, tak mungkin bisa dihindari. Kewajiban kita sebagai umat Islam adalah : Bersatupadulah dan jangan tercerai berai. Toleransi di antara umat Islam harus ditumbuh-kembangkan. Tradisi saling mengkafirkan, saling menyesatkan, sesama umat Islam harus segera dihentikan demi izzul islam wal muslimin, izzul Indonesia wal Indonesiin, demi kemajuan negara Republik Indonesia, demi kemajuan umat Islam Indonesia.


(Disampaikan oleh Dr. Abdul Muqsith Ghazali, MA untuk Jumatan Bellagio pada 14 Juli 2017)

Khotbah Jumat 14 Juli 2017

Hari Jumat bagi umat Islam identik dengan shalat Jumat, yang tentu tidak terpisahkan dengan khotbahnya. Berikut tweet khotbah jumat yang dibagikan melalui akun Twitter @jumatan_org pada hari Jumat, 14 Juli 2017:

1-Alhamdulillah masih ada ustadz kaya gini. Jadi tadi inti #khotbah Jum’at nya: Stop menghina sesama di socmed,… —|@tiannos

2-Dengerin #khotbah jum’at di mesjid Jabal Arafah temanya”Mempertahankan rumah tangga” nyambung banget ama gw. | @timocharles

3-#khotbah tadi, diingetin org yg ngga kecium surga: tkg minum, ngeriba, make harta yatim & durhaka ama ortu. Lindungi kami ya Allah. | @_Me2D

4-Jdlah or yg dicari jabatan, bkn mencari jabatan. Cirinya? Jujur, amanah, berakhlak mulia, takut pd Allah. -#khotbah Jum’at- | @MuhammadDarry

5-“Boleh pasrah, asalkan sudah ikhtiar lebih dulu.” – #khotbah Jum’at hari ini | @strivewalker

6-#khotbah jumat di Kemensos hari ini oke juga. Gak berkah kalau nyumbang atau ngasih makan keluarga dr uang yang gak halal. | @ernistyo

 

7-Menjenguk saudara yg sakit saat pagi, maka akan diampuni, dirahmati serta dimudahken segala urusannya hingga sore hari #khotbah | @fajar_nyb

8-Marilah kita beristihgfar dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan ketaqwaan di sisi Allah swt. #khotbah | @fahrizalaswandi

9-“taqwa” itu taat, takut, malu, dan cinta kpd Allah. #khutbahJumat #khotbah | @aswan

Bagi yang ingin ikut berbagi pesan khotbah di masjid masing-masing, bisa ditwit tiap Jumat dengan tagar #khotbah dan me-mention @jumatan_org, ya. Semoga bermanfaat untuk menambah semarak dan keberkahan Jumat dengan pesan-pesan kebaikan.

Zakat Profesi

Kembali kita berkesempatan untuk bersyukur dan memuji Allah SWT. yang telah mengaruniakan kesanggupan dan kemauan untuk melaksanakan ibadah Ramadlan. Kita juga panjatkan salam dan salawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. yang telah mendapat amanah untuk menyampaikan dakwah Islam kepada umatnya.

Ramadlan adalah bulan ibadah, sebagaimana ibadah salat, umrah dan haji yang tergolong ibadah individual untuk mewujudukan ketaatan, kepatuhan dan kemauan untuk melaksanakan tuntunan-tuntunan Allah SWT. secara perorangan. Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa Rahmatan lil-Alamin juga diwujudkan dengan adanya kepedulian terhadap teman, kerabat dan orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, salat yang sifatnya ibadah individual guna bermunajat kepada Allah SWT. selalu diakhiri dengan salam. Ucapan salam pertama ke kanan, inilah sebuah isyarat setelah beribadah individual dilanjutkan dengan ibadah sosial. Wujud peduli, mendoakan saudara-saudara di sekitar kita. Dilanjutkan dengan mendoakan orang-orang di sekitar kiri kita. Itulah salah satu wujud ibadah sosial.

Salah satu ibadah yang bersifat sosial adalah zakat. Dalam al-Qur’an seringkali zakat disebutkan setelah salat; Wa Aqimus Salata wa ‘atuz zakata. Maknanya, laksanakanlah ibadah-ibadah yang bersifat individual, namun jangan lupa pula namun jangan lupa untuk melaksanakan ibadah yang bersifat sosial. Jika puasa ramadlan ini disebut sebagai ibadah individual, akan lebih lengkap dan sempurna jika diikuti ibadah sosialnya dengan berzakat. Zakat fitrah menjadi wajib bagi semua individu yang tergolong mampu, wajib mengeluarkan bahan pangan, jika untuk ukuran Indonesia dalam bentuk 2,5 Kg beras.

Selain zakat fitrah, juga ada zakat mal, yakni zakat dari harta yang kita miliki yang sudah mencapai haul selama 1 tahun. Dan rejeki itu melebih batas minimal, yang disebut nishab, yang setara dengan nilai 85 gram emas. Di dunia pertanian, juga ada zakat pertanian. Yaitu saat mereka panen dan panenannya melebih batas minimal nishab, sekitar 650 kg beras maka wajib dikeluarkan zakatnya. Bila sawahnya diairi dari irigasi yang menggunakan dana, maka zakatnya 5%. Bila diairi oleh air hujan tanpa biaya, maka zakatnya 10%. Inilah anjuran yang popular dianjurkan oleh Rasulullah SAW. dan satu lagi adalah zakat ternak.

Seorang ulama, Yusuf al-Qaradawi ketika memerhatikan fenomena masyarakat ternyata ada individu-individu yang memunyai profesi yang mampu menghasilkan rejeki dalam jumlah yang banyak. Misalnya, dokter, karyawan, insinyur, dan lain-lain. Penghasilan mereka terkadang bisa melebihi hasil yang dipanen para petani setelah 3 bahkan 4 bulan bercocok tanam. Karenanya, Yusul al-Qaradawi ber-ijtihad, jika petani menghasilkan 650 kg beras saja sudah wajib dizakati, maka bagaimana dengan para profesional? ijtihadnya kemudian dikenal dengan istilah zakat profesi.

Zakat profesi ini ada yang karyawan, penerima gaji setiap bulan, ada arsitek, menerima rejeki usai proyeknya selesai. Ada dokter, yang penerimaan permalamnya jika dikumpulkan dalam sebulan cukup banyak, maka golongan-golongan ini juga layak untuk diwajibkan berzakat, yakni zakat profesi. Zakat itu ada nishab, ada batas minimal penghasilan, ada waktu minimal yakni satu tahun. Namun golongan petani tanpa haul, tidak ada batas waktu 1 tahun. Setiap kali panen, meski baru 3 bulan, sudah masuk wajib zakat. Tiga bulan berikutnya panen, ia wajib zakat lagi. Sehingga mungkin, kewajiban petani bisa 3 hingga 4 kali berzakat. Dengan demikian, profesional-profesional yang kemungkinan mendapatkan rejeki lebih besar dari mereka, menurut Yusuf al-Qaradawi menjadi wajib dikeluarkan zakatnya.

Lalu berapa banyak untuk dizakati bagi para profesional ini? bila melebihi nishab, seharga 85 gram emas, jika dianalogikan satu gram emas senilai Rp. 500.000, maka akan terkumpul capaian Rp. 45.000.000 (empat puluh lima juta rupiah). Maka, ini wajib dizakati. Karyawan dengan penghasilan perbulannya Rp. 10 juta, dan pertahunnya menjadi Rp. 120 juta, maka disini ada 2 pendapat. Pertama, jika mencapai angka pendapatan tersebut maka ada zakat 2,5% minimal yang harus dikeluarkan zakatnya, yang senilai Rp. 3 juta.

Lalu ada pendapat kedua, gaji itu dikurangi terlebih dahulu dengan pengeluaran pokok sehari-hari, sehingga setelah dipotong tersebut masih mencapai nishabnya sebanyak 85 gram emas atau tidak. Jika masih mencapai lebih dari 45 juta rupiah tadi sisanya, maka menjadi wajib dizakati. Inilah yang menjadi perhatian dari Yusuf al-Qaradawi.

Tentu hal ini mendapati pro dan kontra. Namun jika ini dianalogikan dengan kaum petani yang bekerja keras dan perlu modal untuk bibit, pupuk, pekerja tambahan, perawatan, dan itu ternyata tidak diperhitungkan. Jika hal itu saja sudah wajib dizakati meski sudah mencapai 650 kg yang tadi sudah disepakati tanpa memperhitungkan modal. Sementara para profesional memang memerlukan modal awal, untuk menuntut ilmu. Hanya sekali di awal, berbeda dengan para petani yang selalu membutuhkan modal tiap kali memulai usahanya. Oleh karenanya, menurut Yusuf al-Qaradawi para profesional ini layak dikenai zakat profesi.

Nah, inilah ijtihad ulama, yang di masa Nabi Muhammad SAW. memang belum diungkapkan. Namun teriring perkembangan zaman, kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan pun maju pesat, dan berimbas pada profesi, tugas-tugas atau pekerjaan yang menghasilkan rejeki. Allah SWT. mengingatkan dalam surah at-Taubah ayat 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

Yang artinya : “Ambilah Wahai Nabi Muhammad dari umatmu sebagian dari rejeki mereka untuk mensucikan dan membersihkan harta dan jiwa mereka dan kemudian doakanlah mereka.”

إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ

Dan doa kamu akan memberikan ketenangan bagi hati kita.

Inilah dasar tuntunan Allah SWT. dan terkadang seseorang akan berpotensi menganggap rejeki yang mereka terima adalah jerih payah mereka sendiri. Lalu jika sudah didapat mengapa harus mengeluarkan zakat? Maka Allah SWT mengingatkan

wa fi amwalihim haqqun lis sa’ili wal mahrum : Orang-orang yang tidak akan merugi, orang-orang yang selalu taat kepada Allah SWT. adalah merka yang mengetahui dalam rejeki yang mereka peroleh ada bagian kecil yang bukan miliknya. Itu milik Allah, diamanahkan untuk diberikan kepada mereka yang berhak.

Tidak melaksakana amanah, apabila mereka tidak memberikan milik Allah kepada yang berhak. Ketika terakumulasi, bisa jadi Allah SWT. akan mengambil tanpa pemberitauan terlebih dahulu, mungkin juga yang diambil melebih titipan Allah SWT. yang tidak disalurkan kepada mereka yang berhak. Inilah teguran Allah SWT. dan bisa jadi sekali dua kali kita tidak merasa bahwa kita telah melanggar dengan tidak menyalurkan amanah-Nya. Oleh karena itulah zakat profesi itu akan sangat penting, sedangkan secara umum zakat, sedekah sangat perlu kita perhatikan karena itu merupakan kelengkapan dari ibadah Ramadlan yang kita laksanakan. Zakat disyariatkan dilaksanakan setelah ketetapan bulan Ramadlan ditetapkan sebagai bulan dimulainya berpuasa.


Disampaikan oleh Prof. Hamdani ANwar, MA untuk Bellagio Mall pada 16 Juni 2017.

Khotbah Jumat 2 Juni 2017

Hari Jumat bagi umat Islam identik dengan shalat Jumat, yang tentu tidak terpisahkan dengan khotbahnya. Berikut tweet khotbah jumat yang dibagikan melalui akun Twitter @jumatan_org pada hari Jumat, 2 Juni 2017:

1-“Lebih baik menyesal di pagi hari krn lupa bangun utk tahajud, daripada pamer karena bisa tahajud” #khotbahjumat #khotbah | @Senimanjamban

2-Perjalanan terjauh dan terberat seorang muslim bukanlah mendaki Puncak gunung tertinggi, tetapi melangkah ke masjid. #khotbah | @yusufindraa

3-#khotbah Puasa itu inputnya iman, prosesnya puasa dan sholat malam, outputnya taqwa. Smg Ramadhan ini menjadi ramadhan terbaik. | @rustamaji

4-#khotbah Jumat: Marilah jadikan momentum Ramadhan utk muhasabah, mengevaluasi diri, bagi peningkatan kualitas kehambaan kita. | @KMurthadi11

5-Pengisian #khotbah:

Sesungguhnya Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba’ | @ShahizanMasrom

Bagi yang ingin ikut berbagi pesan khotbah di masjid masing-masing, bisa ditwit tiap Jumat dengan tagar #khotbah dan me-mention @jumatan_org, ya. Semoga bermanfaat untuk menambah semarak dan keberkahan Jumat dengan pesan-pesan kebaikan.