Kicau Khotbah 31 Juli 2015

Berikut kumpulan kicauan khotbah yang dipublikasikan di twitter @alifmagz pada 31 Juli 2015:

1-Cerita keluarga fakir yang menabung bertahun-tahun hanya utk berkurban. #hikmah #KhotbahJumat #khotbah | @fwwardhana

2-Dengan mengingat kematian akan membuat kita sadar kemana tujuan kita yg kekal.

 

#Khotbah jumat #khotbah | @RandiFareli

3-Pesan #khotbah Jum’at tadi: Hidup harus bermakna ibadah. | @ilhamrsd

4-Karena Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang paling terbaik dan penuntun hidup ke arah yang lebih baik. ~#khotbah jum’at | @sarjitong

5-#khotbah jumatnya tentang puasa syawal. Yg fadilahnya kaya puasa setahun. Gue jadi tergerak. | @dedekarman

6-Jika hatinya baik. Maka baik lah orangnya.

Jika hatinya buruk, maka buruk lah orangnya.

 

“Kata bapak yang #khotbah” 😀 | @silo_666

7-Dunia ini sangat hina dihadapan Allah seperti bangkai yg hina di hadapan kalian. “khotbahJumat” #khotbah | @Irfanarahman17

8-Ciri-ciri orang yang bertakwa: selalu memandang orang lain lebih baik daripada diri sendiri. #khotbah #KhotbahJumat | @safiksi

9-Salah satu ciri orang sholeh adalah yang senantiasa bersujud pada Allah SWT. #khotbahJumat #khotbah | @fajar_nyb

10-Kaya,miskin, pintar & bodoh sama dihadapan Allah, yg membedakannya adlh IMAN & TAQWA. #khotbahjumat #khotbah | @sieCR

Kicau Khotbah 10 Juli 2015

Berikut kumpulan kicauan khotbah yang dipublikasikan di twitter @alifmagz pada 10 Juli 2015:

1-Intisari #khotbah jumat kali ini – “Tegas dalam berprinsip, santun dalam bersikap”. Amin. | @tomyprayogi

2-Al-quran adalah obat bagi manusia dan penyelamat bagi yg mengikutinya.

#khotbah jumat | @RandiFareli

3-Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. #khotbah #khotbahjumat #tgif #THR | @ariefwick

4-Bnyk sudah yg tmakan media. Menelan berita ala kadarnya. Kualitas diri tdk dijaga. Terjerumus dlm lobang adu domba. #khotbah | @SantriKeren

5-Nanti di akhirat yg menolong ummat nabi muhammad adalah puasa dan tadarusnya. #khotbah #khotbahjumat | @amir_disini

6-Salah satu nikmat terbesar adalah menjadi umat Rasulullah SAW. #khotbah #KhutbahJumat | @guruhnurcahyono

7-#khotbah Jmt: Kedermawanan Rasulullah, terutama saat Ramadhan, lebih besar ketimbang kedermawanan angin yang berembus sepoi-sepoi. | @eljeha

8-Orang yang bertemu lailatulqadar akan menemukan sejahtera/ damai/ selamat dalam menuju Allah. #khotbah | @e81n

Nuzulul Qur’an

Hadirin jamaah jumat yang berbahagia,
Maha suci Allah yang pada hari ini mempertemukan kita, Jumat kali ini, kalau bukan karena petunjuk-Nya, sulit bagi kita untuk bertemu. Oleh karena itu, sepatutnya lah setiap saat kita mengucapkan rasa syukur hanya kepada Allah swt.

Shalawat dan salam juga kita tujukan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, yang Alhamdulillah dengan ajaran beliau semakin hari membawa kita semakin dekat, semakin mengerti dan semakin memahami makna Islam itu sendiri. Yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah swt.

Hadirin yang berbahagia,
Jumat kali ini adalah, apa yang akan dikatakan dengan Nuzulul Qur’an dan malam Lailatul Qadr. Puasa hari ini adalah puasa yang ke-16 dan Insya Allah pada malam nanti kita akan masuk pada malam ke-17.

Tradisi keagamaan yang bersifat nasional biasanya pada malam ke-17 itu diperingati Nuzulul Quran. Yaitu memperingati turunnya al-Qur’an. Bulan puasa memiliki ketertarikan yang erat dengan momentum diturunkannya al-Qur’an. Sebagai pedoman dan sumber pandangan hidup orang yang beriman dan bertakwa.

Zalikal-kitabu la raiba fih(i), hudal lil-muttaqin.
[Kitab yang diturunkan Allah kepada umat Islam adalah isinya tidak ada keraguan di dalamnya bagi orang yang bertakwa]

Siapa yang dimaksud orang takwa dalam ayat ini ialah orang yang memunyai kesadaran dalam kesehariannya selalu merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak-geriknya. Dalam al-Qur’an ada tiga kegiatan yang dijelaskan hal diturunkannya al-Qur’an. Ketiganya adalah derivasi atau kata turunan dari akar kata yang sama yaitu Nasr. Yang pertama adalah inzal (إنزال), yang kedua adala nuzul (نزول), sebagaimana yang sering kita dengar dalam nuzulul qur’an, dan yang ketiga adalah tanzil (تنزيل).

Al-Qur’an diturunkan pada malam-malam ganjil dalam 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Malam tersebut dinamakan malam lailatul qadr. Kenapa malam itu disebut malam lailatul qadr? karena pada malam itu adalah malam dipastikannya atau ditentukannya akan bagaimana kehidupan kita setahun ke depan.

Malam itu penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Sehingga ibadah dan amal shaleh yang dilakukan pada malam itu sama nilainya dengan nilai ibadah 1000 bulan, bagi yang mendapatkannya. Jikalau begitu, 1000 bulan sama dengan 80 tahun dari sinilah kemudian dapat diasumsikan bahwa siapa saja yang mendapatkan malam lailatul qadr, akan mendapatkan pengalaman spiritual yang sangat luar biasa atau pengalaman rohani yang lebih hebat dari amalan 80 tahun.

Al-Qur’an coba menjelaskan akan hal ini, dari ayat 1 sampai 3 sebagaimana tadi khotib bacakan.
inna anzalnahu fi laylatul qadr. (Sesungguhnya Aku turunkan al-Qur’an pada malam lailatul qadr)

Kenapa ibadah yang kita lakukan pada lailatul qadr sama nilanya dengan 1000 bulan atau 80 tahun? Karena pada malam lailatul qadr itu dimensi waktunya Allah samakan dengan dimensi waktu di Surga. Sehingga nilai dari ibadah dengan waktu yang sangat sebentar itu sama dengan nilainya 1000 bulan.

Jamaah yang berbahagia,
Kembali pada proses turunnya al-Qur’an, proses serupa dialami oleh kitab-kitab suci samawi lainnya. Selanjutnya al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril yang waktunya kurang lebih 23 tahun.
Al-Qur’an sebagai kitab suci merupakan simbol proses kelanjutan risalah Allah, al-Qur’an sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya. Al-Qur’an befungsi menjelaskan posisi kitab-kitab sebelumnya dan yang paling penting adalah kedudukannya dengan kaitan kitab-kitab suci sebelumnya adalah sebagai pengoreksi terhadap kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.

Apa artinya? ini menjelaskan bahwa fungsi utama kedatangan al-Qur’an adalah telah terjadi penyimpangan dan penyelewengan terhadap misi dan kesucian kitab-kitab suci sebelumnya.

Ketika kitab-kitab suci samawi yang diturunkan Allah swt. terjadi pergeseran, maka al-Qur’an diturunkan untuk memperbaiki dan mengoreksi nilai tauhid yang diturunkan. Oleh karena itu, al-Qur’an disebut juga pengoreksi nilai ajaran otensitas tauhid yang mulai melanggar.

Firman Allah dalam surat ali-Imran ayat 3:
Dia menurunkan kitab al-Qur’an kepadamu dengan sebenar-benarnya. Menggunakan kitab yang telah diturunkan sebelumnya yakni taurat dan injil.

Jadi pada dasarnya konsep tauhid yang dibangun oleh kitab-kitab sebelumnya tidak ada perbedaan dengan al-Qur’an. Al-Qur’an bahkan mengoreksinya.

Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia,
Itulah sebabnya, ayat terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., adalah Surat al-Maidah ayat 3
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai Islam menjadi agama bagimu“.

Ayat ini menjelaskan sebenarnya bahwa ajaran Islam itu telah dipraktekan sejak mulai manusia pertama diturunkan, yaitu Nabi Adam as., artinya ajaran Islam itu telah dipraktekkan oleh Nabi Adam as., sampai kepada Rasulullah, dan Rasulullah sebagai nabi penutup dari 25 nabi itu, dan itu adalah sebaik-baik penutup dan melegalkan Islam sebagai agama yang tauhidnya sama dengan tauhid yang dibawa oleh rasul yang diutus sebelumnya.

Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ayat ini menjelaskan sekali lagi bahwa ajaran agama Islam adalah Islam yang sudah dimulai visi dan misi dari kerasulan Adam as., sudah dinyatakan dengan sempurna. Jadi tidak ada lagi setelah Islam agama lain, dan tidak ada lagi kiab suci setelah al-Qur’an.

Karena disini Allah menjelaskan bahwa pada hari itu adalah hari dimana Allah menyempurnakan agama Islam.

Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia,
Bersamaan dengan penjelasan ibadah puasa, sedapat mungkin mari kita membaca dan merenungkan al-Qur’an. Dan menjadikan al-Qur’an benar-benar sebagai pedoman dalam kehidupan keseharian kita.
Semoga kita mendapat petunjuk dan hidayah Allah melalui al-Qur’an sehingga hati kita menjadi sejuk, damai serta sakinah dalam menjalankan kehidupan.

Disampaikan oleh Dr. Nawiruddin, MA. di Bellagio Mall pada Jumat 3 Juli 2015.

Kicau Khotbah 3 Juli 2015

Berikut kumpulan kicauan khotbah yang dipublikasikan di twitter @alifmagz pada 3 Juli 2015:

1-Ukhuwah itu ada 4: Ukh insaniyah, ukh wathoniyah, ukh diniyyah dan ukh islamiyah. #khotbah Jumat | @RulyAhmad

2- Menurut sebagian ulama, Allah mengutus 124rb nabi, 313 rasul ke dunia, 5 ulul azmi. Sbagian besar dr kaum Bani Israel. #khotbah | @TaufikPhy

3-#khotbah jumat tadi:

Jagalah mulut dan telinga dari obrolan tidak berfaedah. | ‏@KemalByeGone

4-“Gimana mau jadi imam rumah tangga, kalo mengimami diri sendiri aja belum mampu” ~Sahut sang #kotbah jum’at. | ‏@sarjitong

5-Tadi pas #khotbah jumat ada kutipan yg menyentuh hati: “Daripada menebar kebencian, lebih baik kita menebar kasih sayang”. :’) | @rendiooo

6-Khatib utk Shalat Jum’at hari ini adlh Bpk. Dr. Hidayat Nur Wahid, MA&tema #khotbah-nya adlh Membangun Kesadaran Ber-Islam. | @PASARAYAindo

7-Kita “mati-matian” belajar bahasa jepang, jerman, perancis atau mandarin, tapi untuk bahasa arab kurang sekali #khotbah Jumat | @difiancheto

8-Allah SWT dgn rahmat-Nya, Nabi Muhammad dgn syafaatnya, dan kita manusia berlomba-lomba dg memberi manfaat sesama #khotbah Jumat | @TonyFAdi

9-Jangan sampai nafsu syahwat ini bersatu dengan rayuan setan. #Tauhid #KhotbahJumat #khotbah | @fwwardhana

Marhaban Ya Ramadhan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah, di hari yang baik, yang disebut dengan sayyidul ayyam, di bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini, marilah, kita selalu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Sebab, dengan hanya berkah keimanan dan ketakwaan yang berkualitas kita akan memperoleh kebahagiaan dalam hidup di dunia dan akhirat.

Di setiap kita memasuki bulan Ramadhan, banyak uraian tentang hikmah puasa dan bulan Ramadhan yang disampaikan. Ada yang berkata; puasa di bulan Ramadhan itu menyehatkan. Sebagian mengatakan; puasa dan ibadah-ibadah lain yang dilakukan di bulan Ramadhan itu melatih kedisplinan umat Islam. Ada yang berkata; bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan saatnya kita membakar dan menghapus dosa-dosa kita. Sebagian lagi mengatakan; bahwa bulan Ramadhan melatih kita berempati dan berbagi kepada sesama, dan masih banyak lagi uraian yang menyampaikan kebaikan-kebaikan hikmah puasa dan bulan Ramadhan.

Tetapi, semakin banyak uraian tentang hikmah disampaikan, semakin banyak muncul pertanyaan dalam benak dan pikiran kita. Kalau benar bahwa puasa di bulan Ramadhan itu menyehatkan, lalu mengapa kualitas atau angka kesehatan masyarakat muslim tidak lebih baik daripada mereka yang tidak melakukan kewajiban berpuasa?

Kalaulah benar bahwa puasa dan ibadah di bulan Ramadhan itu melatih kedisplinan diri, lalu mengapa masyarakat muslim kita tidak jauh lebih berdisplin daripada mereka yang tidak beribadah di bulan Ramadhan? Dan kalau benar, ibadah di bulan Ramadhan itu membakar dosa-dosa kita lalu mengapa begitu Ramadhan berlalu dengan mudahnya kita kembali melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena memang masih ada kesenjangan yang cukup lebar antara nilai-nilai luhur yang ada di di dalam ajaran Islam dengan fakta dan realitas umat Islam.

Hadirin yang dimuliakan Allah swt.,
Kalau kita merujuk kepada al-Qur’an, satu hal yang pasti, yang al-Qur’an sebutkan hikmah daripada bulan puasa pada bulan Ramadhan adalah la alakum ta’taqun. Kata ‘la ‘ala‘ mengandung makna harapan, kata harapan mengandung ketidakpastian. Oleh karena itu al-Imam as Syafi’i, beliau tidak mengatakan bahwa puasa itu tidak akan mengantarkan seseorang kepada ketakwaan. Puasa tidak mengantarkan seseorang kepada perbuatan baik, perbuatan mulia. Tetapi puasa DIHARAPKAN dapat mengantarkan manusia kepada ketakwaan.

Diharapkan, puasa itu dapat mengantarkan manusia kepada kebaikan dan kemuliaan. Kata ‘la ‘ala‘ mengandung harapan, mengandung ketidakpastian. Oleh karena itu, hidup orang mukmin memang hendaknya ‘antara harapan dan kecemasan.’ Kita berharap semoga apa yang kita lakukan ini diterima dan diridhoi oleh Allah swt. Dan pada saat yang sama kita juga merasa cemas, jangan-jangan apa yang kita lakukan ini tidak diterima oleh Allah swt.
Oleh karena itu, al-Qur’an tidak memperkenankan kepada kita untuk mengatakan, dan untuk merasa, dirinya sudah paling suci, dirinya yang paling bertakwa.

Jangan anggap dirimu paling suci, sebab Allah lah yang tahu diantara kalian mana yang paling berkualitas ketakwaannya.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ada sekian banyak definisi yang diberikan oleh para ulama tentang ketakwaan. Namun, satu hal yang pasti, indikator yang sangat kuat dari makna ketakwaan itu adalah at-taqwa wa husnul khuluq. Ketakwaan seseorang itu dapat diukur dari kebaikan ahlaknya. Dan, ahlak itu adalah salah satu dari 3 dimensi keislaman kita.

Ada tiga konsep dasar keislaman yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Yaitu; Iman, Islam dan Ihsan. Tiga konsep dasar ini disimpulkan dari sebuah hirarki yang berlaku antara Rasulullah saw., dengan malaikat Jibril di hadapan para sahabatnya.

Malaikat Jibril menanyakan apa itu makna iman, apa itu makna ihsan, apa itu makna islam, yang dijawab satu persatu oleh Rasulullah saw. Ihsan itu adalah ahlaqul kharimah.

Dan dalam hadits tersebut ini didefinisikan

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

‘Engkau beribadah kepada Allah swt seakan-akan menyaksikannya.’ Dan kalau itu tidak bisa dilakukan, perasaanlah, bahwa Allah swt. menyaksikan dan mengawasi apa yang kita lakukan ini.

Ihsan secara bahasa bermakna kebaikan. Tetapi ihsan bukanlah kebaikan biasa. Ihsan itu adalah puncak kebajikan.

Kalaulah kita memperlakukan orang lain secara baik sesuai perlakuan yang baik kepada kita itu adalah adil. Membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang setimpal, al-Qur’an masih memperkenankan karena itu adalah sebuah keadilan. Tetapi, memperlakukan orang lain LEBIH BAIK perlakuannya kepada kita itu adalah ihsan.
Membalas keburukan orang lain dengan kebaikan, itu adalah ihsan.

ادْفَعْ بِالَّتي‏ هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِما يَصِفُونَ
‘Balaslah tindakan dan sikap orang lain dengan sesuatu yang lebih baik’ (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 96)

Ihsan maknanya jauh lebih baik dan lebih mendalam dari sekedar makna adil. Adil adalah memberikan sesuatu yang memang harus diberikan. Tetapi ihsan : memberikan sesuatu MELEBIHI apa yang seharusnya diberikan.
Kewajiban untuk membayar zakat itu 2,5%. Tetapi memberi lebih dari itu, adalah perbuatan ihsan.

Ihsan seorang hamba dituntut bukan kepada dirinya atau ke sesama mahluk lainnya tetapi juga kepada Allah swt. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk berlaku ihsan kepada binatang, kepada tumbuhan, kepada lingkungan dan sebagainya.

Rasulullah saw. pernah memarahi seseorang yang tampak akan menyembelih seekor hewan, tapi hewan tersebut sudah digeletakkan dalam keadaan tidak berdaya, tetapi orang itu terlihat sedang mengasah pisaunya yang tumpul di hadapan hewan tersebut. Rasul lalu katakan kepada orang itu : ‘apakah Anda akan membunuh hewan itu berkali-kali?’

Lalu salah satu pernyataan Rasulullah saw. juga mengatakan kepada seorang perempuan yang memelihara seekor kucing di dalam kandang. Dikurung, lalu tidak diberi makan dan minum. Dan tidak dibiarkan untuk mencari sendiri, maka orang itu akan berada di dalam neraka.

Dan sebaliknya, Rasulullah saw. mengatakan kepada seseorang yang memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan, maka dia berada di dalam sorga. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk berbuat ihsan, sampai pun kepada binatang.

Kepada tumbuh-tumbuhan, Islam mengajarkan untuk melestarikan lingkungan. Bahkan Rasulullah saw. sejak dini mengajak kita untuk melakukan gerakan penghijauan. Dalam satu sabdanya, beliau bahkan mengatakan ‘sampai pun sebentar lagi akan terjadi kiamat, dan ada sebatang pohon di tangan anda, maka tancapkan pohon itu sebelum Anda mampu berdiri.

Hendaklah tancapkan pohon itu sebelum Anda berdiri sampai punkiamat sudah akan tiba. Bahkan, dalam pesannya dan wasiatnya, yang dikirim ke berbagai medan peperangan, Rasulullah saw. dan para sahabatnya selalu berpesan ; Jangan bunuh orang-orang tua, jangan bunuh perempuan, jangan ganggu mereka yang sedang beribadah, dan jangan rusak rumah-rumah ibadah mereka. Dan jangan kalian tebang dan jangan kalian bakar pepohonan. Itulah pesan yang disampaikan Rasullah saw.

Ihsan seorang hamba kepada manusia lainnya, itu tercapai ketika seseorang bisa melebur dirinya pada diri orang lain. Dia melihat orang lain seperti dirinya melihat dirinya sendiri. Oleh karena itu dalam salah satu hadits Rasullullah saw. mengingatkan: ‘Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.‘ (HR.Bukhari)’.

Islam mengajarkan apa yang disebut dengan semangat ‘mendahulukan orang lain’. Dalam surat Al Hasyr disebutkan
Ayat ini memuji orang-orang Anshar yang pada saat itu menyambut orang-orang Muhajirin dari Mekah yang datang ke Madinah dalam keadaan kekurangan. Mereka sambut dengan suka cita. Mereka bantu dengan lapang dada. Walaupun sesungguhnya mereka juga dalam keadaan kekurangan.

Mereka lebih mendahulukan sahabat-sahabatnya yang datang dari Mekah dalam keadaan kekurangan dan pada keadaan mereka sendiri, walaupun sesungguhnya mereka juga dalam keadaan serba kekurangan.

Ihsan seorang hamba kepada Allah swt. tercapai ketika seorang manusia mampu melebur dirinya dalam ibadah dan hanya menatap dan tertuju kepada Allah swt. Inilah yang disebut dengan bursa hadrah dalam konsep kaum sufi.

“Kalau kau tidak bisa merasakan itu, maka rasakanlah bahwa Allah swt menyaksikan dan mengawasi apa yang kita lakukan” Inilah yang disebut dengan konsep muraqabah. Pengawasan melekat dalam diri setiap orang muslim karena Allah swt. menyaksikan apa yang dilakukan hamba-Nya.

Seorang sufi terkemuka Al Imam al junaid al baghdadi, pernah dinasihati oleh gurunya. “Wahai anakku, camkanlah tiga kalimat : Allah bersamaku, Allah melihat kepadaku, Allah menyaksikan. ” Ini adalah tiga pesan yang disampaikan guru al imam al junaid al baghdadi yang menurutnya ia praktekan selama satu bulan, sedikitpun tidak pernah muncul dalam dirinya dorongan untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. ‘Sebab bagaimana aku tidak melakukan dosa dan kemaksiatan sementara Allah bersamaku. Allah menyaksikanku dan Allah melihat apa yang aku lakukan‘.

Itulah yang disampaikan oleh Imam al junaid al baghdadi – al Ghazali terkait dengan muraqabah. Inilah yang disebut dengan pengawasan melekat. Oleh karena itu kebaikan, keadilan, bukan terletak kepada pasal-pasal aturan dan pasal-pasal perundangan. Tetapi kebaikan, keadilan itu bermula dari sanubari penegak hukum, dari sanubari setiap insan. Sebab itulah yang akan menggerakan seseorang untuk terus melakukan kebaikan demi kebaikan.

Kita berharap bulan Ramadhan yang kita isi dengan berbagai amal kebaikan kita dapat melatih aspek dan dimensi ihsan dalam diri kita untuk terus melakukan kebaikan demi kebaikan.

Khotbah Jumat disampaikan oleh Muchlis M. Hanafi dari Dewan Pakar PSQ di Bellagio Mall pada Jumat 26 Juni 2015.

Kicau Khotbah 26 Juni 2015

Berikut kumpulan kicauan khotbah yang dipublikasikan di twitter @alifmagz pada 26 Juni 2015:

1-#khotbah Jumat: Doa yang paling utama dan yang terutama adalah shalat. | @Nazz_MU

2-Ciri-ciri orang bertaqwa, suka berinfak, tidak marah, suka memaafkan, dan bertaubat.

 

#khotbah Jumat | @RandiFareli

3-Makna #khotbah Jum’at tadi “Ibadah puasa dpt melatih jiwa kejujuran. Seseorang berpuasa/ tdk yg tahu hanya dirinya & Allah” | @AshariRusyadi

4-#khotbah hari ini: Rasa Malu.

 

“Kita lebih malu melakukan maksiat di hadapan manusia ketimbang di hadapan-Nya.” #badumces | @ojandepp

5-Brgsp yg berpuasa tetapi masih ada rasa benci di hatinya, insyaallah amal ibadahnya tdk di terima Allah SWT. #khotbah Jumat | @FahrulAmir22

6-Bulan Ramadhan adalah bulan ujian dan pengukuran iman. #khotbah Jumat | @dipphotograph

7-Seluruh amalan anak Adam utk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu utk-Ku. Allah yg lgsg menilai #khotbah | @difiancheto

8-Antara isi kandungan #khobah Jumaat tadi ialah, bulan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah utk kita istiqamah melakukan kebaikan. | @AriffAriffin

9-Petikan #khotbah:

“Berpuasalah kamu dengan mencari keredhaan Allah dan keampunanNya. Nescaya kamu akan diampunkan” | @ayinplaymaker7

10-Isi #khotbah jumat td ttg 3 hal yg diminta Nabi Musa kpd Alloh SWT yg tertulis dlm Taurat asli, yg berkaitan dg umat Muhammad saw | @nakhudo

Kicau Khotbah 12 Juni 2015

Berikut kumpulan kicauan khotbah yang dipublikasikan di twitter @alifmagz pada 12 Juni 2015:

1-Jaman walisongo, mengimankan orang2 kafir
jaman sekarang, mengkafirkan orang2 yg sdh beriman

dikit2 dibilang bid’ah

#khotbah | @fahmianhar

2-Menyambut tamu yg mulia dg suka cita (ramadhan). #khotbah Jmt

Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan
Marhaban ya ramadhan | @RandiFareli

3-Risalah #khotbah Jumat hari ini ☺️ (at Al Amin Menteng ( menoreh tengah )) [pic] — https://path.com/p/35aw8Q | @yoyok_mysoul

4-Ketidaksesuaian “Harapan hati” dengan kenyataan merupakan ujian keikhlasan dari Allah .. 🙂 (#khotbah Jum’at). | @AfidFid

5-Sambut Ramadhan dengan mempersiapkan ruhiyah (iman) dan jasadiyah (fisik yang kuat). #khotbah jumat | @sudionoabirifat

6-Ramadhan adalah syahrul mubarok&bulan tarbiyah (pendidikan) agar keimanan meningkat mjd ketakwaan (2:183) #khotbah jumat | @sudionoabirifat

7-Pesan #khotbah 12 Juni 2015 di Masjid Agung Baiturrahim Sinabang Simeulue: Merokok itu hukumnya HARAM, krn merusak organ tubuh. | @darmili

8-Sucikan hati & pikiran utk menghadapi bln suci ramadhan, jgn berpikir negatif selalu berpikir positif. #khotbahjumat #khotbah | @hparikesit

9-Marhaban Ya Ramadhan. Allah dulu-Allah lagi-Allah terus. #khotbahjumat #khotbah | @bangsal45

10-Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. #khotbah #khotbahjumat #selfreminder | @bradpack97

11-Bulan ramadhan waktunya untuk mensucikan hati dan amal ibadah lainnya. #khotbah #khotbahjumat | @amir_disini

12-Semua yang kt miliki hnyalah titipan yg brsifat sementara, apa yang pantas kt sombongkan? #khotbah #KhotbahJumat o=) | @AzwarDvilla

Tuntunan al-Qur’an dalam Makan dan Minum

Assalâmu’alaikum Wr. Wb.

الحمد لله الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ به من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله االلهم فصل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين أما بعد
فيا عباد الله اتقوا الله اتقوا الله حق تقاته فقد قال تعالى في كتابه العزيز يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون االلهم فصل وسلم على سيدنا محمد

Hadirin Jamaah Jumat yang kami muliakan,
Saat ini kita berada di sebuah kawasan pusat kuliner terbesar di bagian selatan Jakarta. Di tempat ini tersedia ratusan menu yang tentu saja sangat lezat dan mengundang selera, yang diangkat dari kekayaan kuliner nusantara.

Tentu saja dengan karunia Allah swt. yang demikian luar biasa berupa makanan yang bermacam-macam dan lezat ini, kita harus menyampaikan syukur kepada Allah swt. Dan salah satu cara kita bersyukur kepada Allah swt adalah dengan MEMPERLAKUKAN makanan-makanan itu sesuai yang dituntunkan oleh Islam dan al-Qur’an. Itulah yang akan menjadi tema khutbah kali ini sesuai yang dimintakan oleh penyelenggara shlolat jumat di tempat ini.

Mungkin sebagian kita bertanya, apakah Islam dan al-Qur’an juga membahas tentang makanan dan minuman? Tentu saja, karena Islam adalah agama yang diturunkan untuk seluruh umat manusia dengan tujuan memberikan petunjuk kepada mereka di seluruh sisi kehidupannya.

Oleh karena itu, sesuatu yang sangat penting seperti persoalan dan makanan dan minuman, adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan oleh Islam maupun al-Qur’an. Bahkan, saking pentingnya persoalan ini, salah satu surat di dalam al-Qur’an oleh Allah diberi nama surat al-Mâ`idah yang artinya adalah hidangan atau makanan-makanan. Jika salah satu nama surat di kitab suci diberi nama dengan makanan atau hidangan, itu menunjukkan bahwa Islam MEMBERIKAN PERHATIAN YANG SANGAT SERIUS terhadap persoalan makanan dan minuman ini.

IBADAH

Sejauh pembahasan tentang makanan dan minuman, di dalam al-Qur’an dan Islam ada tiga bagian. Yang pertama adalah membahas tentang jenis-jenis makanan yang disebutkan dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah. Yang kedua adalah tata cara kita berinteraksi, tata cara kita memperlakukan makanan dan minuman. Dan yang ketiga adalah tata cara makan dan minum. Tapi dalam kesempatan yang sangat singkat kali ini kita hanya akan membahas bagian yang kedua, yaitu tata cara kita berinteraksi dan memperlakukan makanan serta minuman.

Terkait dengan cara kita memperlakukan makanan dan minuman, ada dua kaidah besar yang disampaikan al-Qur’an. Ada dua buah rambu-rambu yang diatur oleh al-Qur’an terkait dengan bagaimana seharusnya kita berhadapan dengan makanan dan minuman. Kaidah yang pertama atau rambu yang pertama yang disampaikan oleh al-Qur’an adalah sebagaimana disampaikan Allah dalam surat al Baqarah: 168

يا أيها الناس كلوا مما في الأرض حلالا طيبا ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
Wahai manusia, makanlah dan minumlah apapun yang ada di bumi ini selama dia halal dan thayyib. Dan jangan sekali-kali kalian mengikuti langkah-langkah setan karena setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.”

Melalui kaidah pertama yang disampaikan al-Qur’an, kita dipersilahkan untuk menikmati makanan yang halal dan thayyib. Itu yang disampaikan oleh al-Qur’an. Ada beberapa ayat lain yang menyampaikan seruan serupa. Misalnya dalam al-Baqarah: 29 dan al-Maidah: 28

وكلوا مما رزقكم الله حلالا طيبا واتقوا الله الذي أنتم به مؤمنون
Makanan dan minumlah apa yang Allah berikan kepadamu selama itu halal dan thayyib dan bertakwalah kepada Allah yang telah kamu iman.”

Pertanyaannya adalah apa makanan yang halal itu, yang disebut oleh Islam? Para ulama menyatakan bahwa yang disebut dengan makanan yang halal yang pertama adalah dia tidak diharamkan oleh syari’at. Jadi bentuk bendanya tidak diharamkan oleh syari’at. yang pertama, kriteria yang pertama. Kriteria yang kedua tentang makanan yang halal adalah dia tidak didapat dengan cara yang tidak benar. Atau tidak didapat dengan cara yang dilarang oleh agama, misalnya dari mencuri, merampok, merampas, membegal, atau bahkan korupsi dan persoalan-persoalan lain yang merupakan tindakan merampas hak orang lain. itu masuk dalam kategori makanan-makanan yang haram.

Yang pertama, prinsip dalam Islam kita dipersilahkan sebagai manusia oleh Allah untuk menikmati seluruh yang diciptakan oleh Allah di dunia ini. Makanya para ulama kemudian ketika mereka merumuskan makanan apa saja yang haram dan halal, mereka memperluas cakupan makanan-makanan yang halal. Jadi dapat kita katakan bahwa makanan-makanan yang halal dalam Islam jauh lebih banyak daripada makanan-makanan yang diharamkan. Makanan-makanan yang diharamkan secara umum hanya terbatas kepada yang sudah disebut dalam syari’at. Misalnya disebutkan dalam al-Qur’an ayat surat al-Maidah, ini makanan-makanan yang diharamkan

حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أكل السبع إلا ما ذكيتم وما ذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلام ذلكم فسق.

Berdasarkan ayat ini, yang diharamkan kepada kita (1) bangkai, (2) darah; darah maksudnya adalah darah yang mengalir. Tidak boleh meminum darah yang mengalir. (3) daging babi, (4) hewan-hewan yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah. (tidak membaca basmalah ketika menyembelihnya.) (5) wa al munkhaniqah; hewan-hewan yang dicekik, yang mati dicekik, (6) wa al mauqûdzatu; hewan yang dipukul. Jadi untuk mematikannya bukan disembelih tetapi dipukul. (7) wa al mutaraddiyatu; dan hewan yang jatuh. Jatuh mati, tidak boleh dimakan. (8) wa al nathîhatu; atau hewan yang ditanduk. Yang kena tanduk hewan lainnya mati tidak boleh dimakan. (9) wa mâ akala al sabu’u; Termasuk hewan yang bekas diterkam oleh hewan buas lainnya. Illâ mâ dzakkaitum kecuali kita sempat menyembelihnya sebelum hewan itu mati. Disembelih dengan nama Allah, maka makanan-makanan itu boleh kita makan. Itu yang makanan. Yang minuman misalnya, disebutkan dalam surat al-Maidah ayat 90

ياأيها الذين أمنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, judi, berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan panah itu adalah rijsun itu adalah kotor dan merupakan perbuatan syaitan. Maka dari itu harus dijauhi.

Jadi minuman-minuman yang membahayakan bagi diri kita seperti minuman-minuman keras dan semacamnya yang sebagian berkembang belakangan di masyarakat kita adalah minuman-minuman yang dilarang oleh Islam. ini adalah beberapa kategori makanan haram yang disampaikan oleh al-Qur’an maupun as-Sunnah. Jadi sangat terbatas cakupannya.

Kita bersyukur kita hidup di sebuah negara yang mayoritas muslim sehingga kita tidak sulit mencari makanan-makanan yang halal. Dan pada saat yang sama kita mempunyai sebuah lembaga yang melakukan penelitian untuk menjamin bahwa kita akan mengkonsumsi makanan-makanan yang halal. Yang pertama halal.

Kemudian yang kedua, kriteria tadi yang thayyib. Apa ang disebut dengan thayyib? Thayyib itu artinya adalah BAIK. tapi yang dimaksud menurut para ulama dalam kata-kata makanan yang thayyib yang baik itu tentu saja kalau dalam bahasa sekarang adalah makanan yang sehat.

Makanan yang sehat itu yang setidaknya mengandung dua unsur. Yang pertama adalah makanan yang bersih. Bersih dari najis, bersih dari kotoran, bersih dari kuman, bersih dari zat-zat yang membahayakan diri kita. sebagaimana yang sekarang kita saksikan, ada beras sintetis. Ada makanan-makanan yang tercampur formalin, ada makanan-makanan yang dicampur dengan makanan-makanan yang haram, dan seterusnya. Hal-hal itu adalah termasuk makanan yang tidak thayyib. Jadi bersih dalam pengertian yang sejelas-jelasnya. Yang kedua pengertian thayyib adalah bergizi.

Bergizi dalam arti ia memiliki gizi yang seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh kita, baik berupa karbohidrat, protein, mineral, vitamin dan seterusnya yang mampu membangun energi dalam tubuh kita. Inilah yang disebut dengan thayyib. Maka yang di al-Qur’an disebutkan

يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات
Mereka bertanya tentang apa saja yang dihalalkan. Yang dihalalkan adalah makanan yang thayyib yaitu makanan yang sehat dalam arti bersih dan bergizi.

Lawan dari kata thayyib ini, dalam al-Qur’an kaitannya dengan makanan adalah al-khabîts. Yaitu makanan yang buruk, daik gizinya maupun kbersihannya. Itu kaidah yang pertama. Kaidah yang kedua
وكلوا واشربوا ولا تسرفوا ‘ن الله لا يحب المسرفين

Kaidah yang pertama adalah halal dan thayyib. Kaidah yang kedua “makan dan minumlah kalian – kata Allah dalam surat al A’raf: 31 – tapi jangan berlebih-lebihan, Innallâha lâ yu¬hibbu al musrifîn “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan’. Pada ayat lain juga dinyatakan pada surat al-Maidah: 87

لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم ولا تعتدوا
Jangan mengharamkan, jangan melarang diri kamu makan makanan yang memang sudah dihalalkan oleh Allah. Tapi ingat, jangan berlebih-lebihan.” Itu pesan, yang atau kaidah, rambu yang kedua dalam kita berinteraksi dengan makanan.

Jadi kita diserukan untuk PROPORSIONAL dalam makan. Tidak berlebih-lebihan. Karena ini merupakan bagian dari prinsip umum yang dianut Islam, yaitu agar kita tidak berlebih-lebihan dan selalu bersikap moderat. Boleh jadi, sebagai insting manusia, suka pada makanan-makanan yang lezat yang sangat enak. Dipersilahkan kita makan oleh Islam. Hanya satu catatan, tidak boleh berlebih-lebihan.

Ada sebuah konsep yang diajukan oleh Rasulullah saw. bagaimana mengatur agar kita tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadis disebut:

ما ملأ أدمي وعاء شرا من بطن
Kata Rasul; ‘Tidak ada wadah, tempat yang paling buruk kecuali perut yang diisi penuh dengan makanan.‘ Itu kata Nabi. Jadi Rasul atau Islam melarang kita memenuhi perut kita sehingga sampai – kalau bahasa populer di masyarakat kita – sampai bega’, sampai penuh betul. Itu dilarang oleh Islam. Dan bukan hanya oleh Islam, dibuktikn oleh ahli gizi dan kedokteran moderen, bahwa makan sampai kenyang betul, sampai penuh perutnya, itu juga cara makan yang tidak baik. dan ini sudah diingatkan oleh Islam, oleh Rasulullah empat belas abad sebelum dokter menemukan konsep tentang perlunya makan yang proporsional dan tidak berlebih-lebihan.

Kemudian kelanjutan hadis itu, بحسب ابن آدم أكلات atau dalam redaksi lain لقيمات يقمن صلبه . Kalau tidak berlebih-lebihan bagaimana standarnya? Menurut … cukup bagi anak adam itu sesungguhnya ukulât atau luqaimât itu artinya cukup beberapa suap untuk membuat tubuhnya tegak.

Orang kedokteran modern menyatakan bahwa setiap orang kebutuhan kalori dalam dirinya itu berbeda-beda. Jadi yang paing tahu terhadap kebutuhan kalorinya adalah diri kita masing-masing. Oleh karena itu, kita ‘lah yang bisa mengukur sejauh mana kebutuhan makanan yang mampu membuat diri kita tegak. Maksudnya tidak sampai pingsan dan tidak lemah dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Itu ukurannya. Silahkan diukur dengan sejauh mana sesungguhnya kebutuhan diri saya terhadap makanan, kalo cukup dua tiga lima suap cukup segitu, tidak perlu berlebih dari itu.

Tapi kata Nabi juga memberi jalan فإن كان فاعلا لا محالة kalau nafsu untuk makan luar biasa sangat tinggi – kata Nabi – tidak bisa ditahan ingin makan terus, ada solusinya فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث …… rongga atau ruang perutnya bagi menjadi tiga; sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi sisakan ruang agar anda bisa bernafas. Jangan dipenuhi semua, bagi menjadi tiga. Itu adalah konsep yang diberikan oleh Nabi.

Ada sebuah hadis meskipun hadis ini lemah hadis ini dhaif, tapi semangatnya sangat penting saya kira, dalam kehidupan kita yakni نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع katanya, kami atau kita umat Islam adalah kaum yang baru akan makan kalau sudah merasa lapar betul dan ketika kami makan kami berhenti sebelum kami kenyang.

Kalau kita perhatikan konsep ini, makan yang sedikit atau pola makan yang teratur ini adalah sebuah cara yang dikonfirmasi oleh penelitian ahli gizi maupun ahli kedokteran modern. Pertanyaannya adalah kemudian apa tujuan Islam mengatur sampai hal-hal sedemikian rupa? Setelah kita tahu bahwa ternyata Islam mengatur cara kita berinteraksi dengan makanan sejak empat belas abad lalu yang kemudian dikonfirmasi oleh ahli gizi dan kedokteran modern.

Apa kira-kira tujuannya? Tujuannya adalah karena Islam memahami bahwa apapun makanan itu akan BERPENGARUH terhadap diri kita, berpengaruh pertama terhadap jasmani. Kalau pengaruh terhadap jasmani kita semua sudah tahu bahwa kalau makannya atau pola makannya betul kita akan sehat. Kalau pola makannya buruk, pasti akan dihinggap kita sudah tahu.

Tapi yang ditekankan oleh Islam terutama adalah kepada pengaruh batin. Pengaruh rohaninya. Disampaikan oleh Nabi saw.

إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu bersih, baik dan hanya bisa menerima sesuatu yang baik.
Kemudian di ujung hadis, karena hadis ini agak panjang, Rasulullah menyatakan bahwa ada orang yang setiap hari dia berdoa tidak berhenti-berhenti. Tapi makannya dia makan yang haram, minumannya juga haram. Makannya minumnya haram dan kehidupannya penuh dengan kemaksiatan. Orang seperti ini, kata Rasulullah, jangan berharap doanya akan diterima oleh Allah swt.

Pernyataan lain, Imam Ibnul Qayyim al Jauziyyah dalam kitab Madarijus salikin menyatakan bahwa سداد القلب خمسة , ada lima hal yang merusak cahaya hati kita ini. Dan salah satunya adalah makanan.

Kata Ibnul Qayyim, من أكل كثيرا شرب كثيرا فنام كثيرا فخسر كثيرا ‘barang siapa yang suka makan banyak, dia pasti akan minum banyak‘. Kalau sudah begitu, maka dia akan sering ngantuk dan akan tidur banyak. Kalau orang sudah tidur banyak, fa khasara katsîran, maka dia akan merugi karena kehilangan banyak kesempatan untuk produktifitas dirinya selama hidup di dunia.

Kalau makan terlalu banyak mata kita akan mengantuk, hati kita cahayanya akan tertutup, kecerdasan kita akan mandeg. Oleh karena itu, pesan yang ingin disampaikan oleh Islam adalah kalau kita ingin baik, kalau kita ingin istri kita dan anak kita baik, otaknya terbuka, perbuatan-perbuatan dan perilakunya menjadi baik, mulailah juga dari makanan-makanan yang baik. Yaitu makanan yang halal dan thayyib tadi itu. Karena kalau tidak demikian, sulit mengharapkan kita mendapatkan sesuatu yang baik dari sumber yang tidak baik.

Karena kata para ulama, setan itu selalu bisa melaju dalam sel-sel darah kita yang dialiri oleh makanan yang tidak baik. Jadi kalau makanan kita tidak baik, perilaku pikiran kita juga mungkin tidak akan baik.

Semoga Allah swt selalu memberikan petunjuk kepada kita semua, selalu memberikan rejeki yang halal dan thayyib kepada kita dan selalu memberikan kita kesehatan sehingga kita dapat bribadah dan beraktifitas secara baik.

Disampaikan oleh Ust. Romli Syarqowi Zein, MA pada khutah Jumat di Eat Republic, Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada 29 Mei 2015.

Kicau Khotbah 5 Juni 2015

Berikut kumpulan kicauan khotbah yang dipublikasikan di twitter @alifmagz pada 5 Juni 2015:

1-Dengan bersyukur akan memanggil nikmat2 yg lain. #khotbah #khutbahJumat di Masjid STAIN Kudus | @rulyahmad

2-#khotbah jum’at: mengenal diri » musuh yg besar dalam diri adalah Hawa Nafsu. | @andika37

3-Inti #khotbah Jum’at: Bercanda dan bersenda gurau dengan istri adalah Ibadah yang akan mengekalkan kasih sayang. | @ijoelbola

4-Hikmah #khotbah hari ini, Krisis akhlak yg tidak begitu diperhatikan secara serius. #JumatMerdeka | @harrysleawer

5-Kenapa kt hrs mengerti agama? Jika org tua tdk mengerti agama, bagaimana anak2nya belajar agama?

#khotbah masjid sebelah. | @nocturnalswan_

6-Belilah produk yg asli jangan yg KW, karena barang yg kita beli akan kita pertanggungjawabkan di akherat kelak. #khotbah Jumat | @denirama

7-Visi tanpa Aksi = Fantasi, Aksi tanpa Visi = Sensasi. #khotbah #khotbahjumat #jumatbarokah | @tofiqabdurrozak

8-“Tiada suara yang disukai Allah melainkan suara-suara hamba-Nya yang merintih memohon ampunan-Nya.” #KhotbahJumat #khotbah | @hardiwo

9-Hari ini kita bernafas tp tdk ada jaminan buat kita bertemu bulan Ramadhan, kecuali orang2 yg dipilih oleh-Nya. #khotbah Jumat | @Emy_Alvaro

10-Bpk yg mngajarkan anaknya Al-Quran dgn baik, kelak akan dipakaikan mahkota untuknya di surga. #khotbah #khotbahjumat | @a_b_i_m

11-Malulah kpd Allah dg nikmat yg Dia beri jd jembatan mjd sombong thdp sesama. Ingat yg kt sombongkan: titipan-Nya. #khotbah | @SaputriPAnggi

12-#khotbah “..mohon ampunlah atas segala dosa setiap hari dgn melakukan tobat dan tingkah laku yang mencerminkan pertobatan kita. | @pekcikam

13-Maka perbanyaklah ibadah. Hubunganmu bukan hanya dgn manusia lainnya, tapi dengan Tuhan. Zat yg menciptakanmu. #khotbah Jumat | @Gaidenmaxi

14-#khutbahjumat: Sucikan diri menyambut ramadhan #khotbah | @guruhnurcahyono

15-Salah1 Langkah syetan utk mengganggu Manusia adalah melupakan pd akhirat, pdhl kita smakin dekat dgn akhirat itu. #khotbah Jumat | @rosgana

16-Dulu, pemimpin memotivasi kaumnya agar bisa hidup &makan. Kini, pemimpin nyari makan &hidup dr keringat kaumnya. #khotbah jumuwah | @mytemy

Langgam Bacaan

الحمد لله الحمد لله نحمده نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة تنجينا من العذاب يوم لا ينفع ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأمة وكشف الله بيده الغمة اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا وحبيبنا ومولنا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين.
عباد الله أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله وطاعته، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Ma’âsyral muslimin rahimakumullah, marilah pada kesempatan yang penuh bahagia dan keberkahan ini, kita selalu berupaya meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Sebab hanya dengan berbekal keimanan dan ketakwaan yang berkualias, kita akan memperoleh kebahagiaan dalam hidup di dunia dan akhirat.

Akhir-akhir ini ada fenomena yang cukup membahagiakan dan menggembirakan. Perhatian umat Islam terhadap al Qur’an begitu sangat tinggi. Berbagai ajang perlombaan musabaqah tilawatil qur’an, musabaqah hifzil qur’an, membaca, menghafal al-Qur’an, digelar di berbagai tingkat, mulai dari kecamatan sampai tingkat internasional. Tidak jarang, para qari’, para hafiz Indonesia pun unggul dalam berbagai musabaqah-musabaqah tersebut. Dan kalau kita perhatikan peredaran mushaf al Qur’an yang ada di Indonesia baik dalam versi cetak maupun versi digital, mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Satu hal menunjukkan bahwa perhatian umat Islam terhadap al-Qur’an cukup menggembirakan dan membahagiakan.

Kita pun sebagai orang tua, juga berlomba-lomba untuk memasukkan anak-anak kita ke lembaga-lembaga pendidikan Islam yang di situ ada pelajaran tahfiznya. Bahkan para orang tua berbangga ketika sang anak berhasil memperdengarkan hafalan beberapa surat atau juz dalam al-Qur’an.

Memang, tidak ada kitab apapun di dunia ini, termasuk kitab suci apapun di dunia ini, yang mendapat perhatian melebihi apa yang biberikan umat Islam terhadap al Qur’an. Baik dari segi bacaan, maupun dari segi hafalan ataupun kajian dan pengamalan. Bahkan dalam rangka memuliakan al-Qur’an, semua itu dilakukan dalam rangka memuliakan al-Qur’an.

Bahkan dalam rangka memuliakan al-Qur’an para ulama menetapkan dalam hal bacaan pun harus memperhatikan fashahah, harus memperhatikan kaedah-kaedah ilmu tajwid yang semuanya itu adalah untuk menjaga kesucian al Qur’an, agar al Qur’an yang dibaca itu adalah seperti halnya al Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Malaikat lalu diteruskan kepada Rasulullah saw dan selanjutnya kepada para sahabat dan umatnya. Atas dasar itulah para ulama menetapkan kaedah-kaedah bacaan ilmu tajwid dalam al Qur’an.

Al Imam Ibnul Jazari, seorang paham dan pakar al Qur’an menyatakan dalam satu nazaman, dalam satu karangannya mengatakan bahwa
الأخذ بالتجويد حتم لازم # من لم يجود القرآن فهو أثم
Membaca al-Qur’an dengan ilmu tajwid itu adalah satu keharusan sebuah keniscayaan. Dan barang siapa membaca al-Qur’an tanpa memperhatikan kaedah ilmu tajwid maka dia sudah berdosa. Karena dengan bacaan yang tidak memperhatikan ilmu tajwid, akan berpotensi mengakibatkan perubahan redaksi, perubahan huruf, yang berakibat pada perubahan makna. Untuk itulah para ulama menekankan pentingnya ilmu tajwid.

Dalam rangka memuliakan al-Qur’an, Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk memperindah, memperbagus bacaan al-Qur’an. hassinû ashwâtakum bi al Qur’ân (perindahlah suaramu dengan al Qur’an). dalam riwayat yang lain Beliau mengatakan zayyinû al Qur’âna bi ashwâtikum (hiasi al Qur’an itu dengan bacaanmu yang indah).

Rasulullah saw. pun senang mendengarkan bacaan para sahabatnya yang bersuara indah. Klan al Asy’ari, kabilah al Asy’ari di Jazirah Arab, itu terkenal dengan para qari para pembaca al-Qur’an yang memiliki suara merdu. Abu Musa al Asy’ari, salah seorang sahabat Rasulullah saw. itu adalah seorang qari’ yang mempunyai suara merdu. Dan Rasulullah saw. senang sekali mendengarkan bacaan al-Qur’an dengan suara yang merdu dari Abu Musa al Asy’ari. Bahkan Beliau dalam satu kesempatan memuji dan memberikan apresiasi kepada sahabat ini dengan mengatakan bahwa “anda telah diberi oleh Allah swt. seruling, suara yang indah seperti yang pernah diberikan kepada Nabi Dawud dan keluarganya”. Nabi Dawud dalam sejarah, dikenal sebagai salah seorang nabi yang sering sekali melantunkan pujian, doa-doa, yang terkandung dalam Kitab suci Zabur dengan suara yang merdu. Bahkan diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Nabi Dawud as. sering melantunkan itu dengan hampir tujuh puluh nada dan irama bacaan yang bervariasi.

Atas dasar anjuran inilah, maka tradisi membaca al-Qur’an dengan suara yang merdu dengan suara nada dan irama yang indah dilakukan oleh umat Islam. Penyebaran umat Islam di beberapa wilayah Persia, jazirah Arab dan seterusnya memungkinkan para sahabat dan umat Islam untuk mengembangkan jenis-jenis nada dan bacaan seperti yang kita kenal dalam nagham dalam bacaan qari’-qari’ yang indah dengan nada irama yang seperti kita kenal sekarang. Ada yang disebut dengan bayati, ada yang disebut dengan shoba, ada yang disebut dengan jiharka dan seterusnya. Nada dan irama ini mereka temukan sebagai hasil penghayatan terhadap makna-makna al-Qur’an. Oleh karena itu, mereka selalu menyesuaikan ketika ayat-ayat yang dibaca itu bernuansa azab, bernuansa kepedihan, bernuansa suasana yang mencekam karena peristiwa Kiamat dan lain sebagainya maka nada yang dipilih oleh mereka adalah nada shoba misalnya. Ketika ayat sebaliknya, ketika ayat-ayat itu berisikan tentang kehidupan di sorga berbagai karunia nikmat Allah swt., maka nada yang mereka pilih adalah nada atau irama atau nagham nahawan. Nagham, nada, irama yang diciptakan itu untuk menyesuaikan makna, pesan-pesan dari ayat yang sedang dibaca itu. Jadi nagham, nada, irama dalam bacaan al-Qur’an itu dipilih berdasarkan makna bukan hanya karena ingin mementingkan lagu ataupun nada irama ataupun sekedar ingin melantunkan al-Qur’an dengan irama-irama tertentu.

Oleh karena itu, dalam perdebatan, dalam polemik yang sudah hampir satu minggu ini, media sosial diramaikan oleh pandangan yang mengatakan tentang bacaan al-Qur’an berlanggam Jawa antara pro dan kontra, kita harus bisa menyikapinya dengan arif. Kita harus bisa membedakan mana yang disebut dengan ajaran agama, mana yang disebut dengan budaya dan kebiasaan. Membaca al-Qur’an sesuai dengan tuntunan, sesuai dengan kaedah ilmu tajwid, itu adalah sebuah keharusan; wa rattili al Qur’âna tartîla (bacalah al Qur’an dengan tartil) sesuai dengan makhraj-nya sesuai dengan kaedah ilmu tajwid panjang pendeknya. Zayyinû al Qur’âna bi ashwâtikum (hiasi al Qur’an dengan suaramu) itu ajaran agama. Lalu bagaimana memperindah bacaan, apakah langgam A, atau langgam B, itu adalah bagian dari budaya, itu bagian dari kebiasaan, yang oleh karena itu memungkinkan untuk timbulnya berbagai langgam, nada, irama bacaan. Dan itu tidak bertentangan dengan kesucian al Qur’an selama diperhatikan ilmu tajwid, selama diperhatikan makhârij al hurûf, selama menggunakan nada itu adalah dalam rangka mengekspresikan makna-makna yang terkandung dalam pesan al-Qur’an yang sedang dibacakannya itu.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, kalaulah membaca al-Qur’an dengan ilmu tajwid itu adalah sebuah keharusan. Atau tajwid bacaan itu adalah sebuah keharusan. Dan memperindah bacaan al qur’an dengan nada irama dengan nagham dengan langgam apapun, yang menurut al Imam al Syafi’i ra. ketika menjelaskan hadis yang mengatakan Zayyinû al Qur’âna bi ashwâtikum, hassinû al Qur’ân bi ashwâtakum, beliau mengatakan yuhassinu shoutahu bi ayyi wajhin kâna (dia bisa memperindah memperbagus suaranya dalam membaca al-Qur’an dalam bentuk langgam apapun).

Itu semua ditekankan; suara yang indah, makhârij al hurûf yang pas, ilmu tajwid yang tepat, belumlah cukup dalam kita berinteraksi dengan al-Qur’an. Sesungguhnya ada yang jauh lebih penting dari sekedar memperhatikan tajwid bacaan, atau langgam bacaan. Yaitu bagaimana kita memperindah dan memperbagus tingkah laku, perbuatan, dan amalan kita sesuai dengan ajaran al-Qur’an. Ada yang jauh lebih penting dari sekedar tajwid bacaan yaitu tajwid atau memperindah, memperbagus amalan kita sesuai dengan petunjuk al-Qur’an, inna hâdzâ al qur`âna yahdî li al latî hiya aqwamu (QS. al Isra: 9). Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah swt sebagai petunjuk ke jalan yang lurus, ke jalan kebenaran, ke jalan yang akan memberikan kebahagiaan kepada kita.

Sudah sepatutnya kita meningkatkan kelas dan kedudukan kita dari sekedar hanya memperhatikan bacaan al-Qur’an dan tahsin, tajwid, tilawah ataupun dari segala pilihan langgam, nada, irama bacaan, kita meningkatkan diri untuk lebih memperindah dan memperbagus amalan kita agar sesuai dengan tuntunan al-Qur’an. Sebab krisis keberagamaan yang kita alami sekarang ini antara lain disebabkan adanya kesenjangan yang begitu sangat tinggi antara nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam al-Qur’an dan sunnah dengan praktik kehidupan umat Islam dan masyarakat secara umum. Ajaran al-Qur’an dan hadis begitu sangat mulia tentang kebersihan, tentang kesehatan, tentang ketepatan waktu dan lain sebagainya, tetapi perilaku umat Islam belum mencerminkan nilai-nilai tersebut.

Ajaran al-Qur’an begitu sangat mulia menjelaskan bahwa Islam dan umat Islam itu adalah ajaran, agama, dan umat pilihan yang disebut dengan khaira ummatin, umat yang terbaik, umat pilihan. Tetapi pada kenyataannya ajaran yang disebut rahmatan li al ‘âlamîn ternyata belum lagi mencerminkan Islam yang penuh dengan keramahan, Islam yang menghargai keragaman, Islam yang menghargai perbedaan pandangan, Islam yang menghormati asas-asas dan hak-hak manusia sepenuhnya. Belum terlihat Islam dan umat Islam yang seperti itu. Ada kesenjangan antara nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam al-Qur’an dan sunnah dengan perilaku umat Islam. Oleh karena itu, dengan meningkatkan kualitas amalan kita melalui tajwid amalan, kita berharap kesenjangan itu semakin dekat, semakin tipis, dan bila perlu dan seharusnya itu yang kita lakukan adalah bahwa apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, apa yang kita fikirkan sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an maupun sunnah.

Survei tentang keidupan atau keberagamaan umat Islam masih menunjukkan suasana yang memprihatinkan. Sebuah survei tentang how islamic a islamic countries, seberapa islami-kah sesungguhnya negara-negara islam itu, masih menunjukkan bahwa Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar masih berada pada rangking yang terbawah. Belum ada kesesuaian antara perilaku umat Islam terutama Indonesia, dalam perilaku ekonomi, perilaku politik, perilaku dalam tata kelola pemerintahan, perilaku sosial, dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam al Qur’an. Apakah kita termasuk kaum yang dulu pernah dikeluhkan oleh Rasulullah saw. dan itu direkam di dalam al Qur’an yang mengatakan
وقال الرسول يا رب إن قومي اتخذوا هذا القرآن مهجورا (الفرقان: 30)

Dulu Rasulullah pernah mengeluh dan itu direkam di dalam al-Qur’an. Wa qâla al raûlu dan Rasul berkata, inna qaumî ittakhadzû hâdza al qur`âna mahjûran ‘sesungguhnya kaumku ini telah menjadikan al Qur’an terabaikan’. Mengabaikan al-Qur’an bukan hanya dengan tidak membaca atau menghafalnya. Tetapi tidak mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an, itu juga disebut ittakhadzû hâdza al qur`âna mahjûran ‘telah menjadikan al Qur’an terabaikan’.

Penting untuk kita renungkan dalam situasi dan kondisi sekarang ini apa yang pernah diingatkan oleh salah seorang sahabat, Abdullah bin Mas’ud kepada murid Beliau, yang mengatakan
إنك في زمان قليل قراءه كثير فقهاءه يُحفظ فيه حدود القرآن ويضيع حروفه قليل من يسأل كثير من يعطي يطيلون فيه الصلاة ويقصرون فيه الخطبة
Anda sekarang ini – kata Ibn Mas’ud kepada muridnya – sekarang ini berada pada saat qari’nya itu sedikit tetapi orang yang alim, orang yang ahli al-Qur’an itu banyak. Hukum-hukum al-Qur’an ditegakkan walaupun bacaannya jarang dibaca. Yang bertanya sedikit, yang memberi banyak. Dalam salat mereka memperpanjang bacaan, dalam khutbah dipersingkat.

Saya`tî zamânun – kata Ibnu Mas’ud – akan datang suatu masa nanti, Katsîrun qurrâ`uhû qalîlun fuqahâ`uhû, ,yang membaca al Qur’an itu banyak, yang menghafal al Qur’an itu banyak, tetapi yang ahli di bidang al Qur’an, yang memahami al Qur’an dengan baik dan benar sedikit,. Yuhfazhu fîhi hurûf al Qur`âni huruf-huruf, ‘kalimat-kaimat al Qur’an memang dibaca dan dihafal’. Tetapi wa yudhayya’u hudûduhû ‘hukum-hukumnya tidak ditegakkan’. Katsîrun man yas`al ‘yang bertanya itu banyak’, wa qalîlun man yu’thî ‘tetapi yang memberi itu sedikit’. Yuthîlûna al khuthbata wa yaqshurûna al shalâta ‘mereka mempersingkat bacaan dalam sholat. Tetapi dalam berkhutbah dan berceramah diperpanjang. Hawa nafsu mereka lebih menonjol daripada amaliyahnya.’

Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah swt. yang memuliakan al-Qur’an, mulai dari bacaannya sampai kepada amalannya.


Disampaikan oleh Dr. Muchlis M. Hanafi pada Jumat, 29 Mei 2015 di pelataran Masjid di kompleks Eat Republic, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.