Ma Huwa al-Islam?

Apa itu Islam, atau ma huwa al-Islam dalam Bahasa Arab?

Dari kecil kita mengetahui bahwa Islam adalah Din atau dien, دين (Bahasa Arab) yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW. untuk kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Perlu ditambahkan pula, bahwa Islam adalah agama yang sangat mendukung, menganjurkan, memfatwakan, mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang profesional.

Seperti termaktub dalam surat Al-Qasas Ayat 26:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Syarat pekeja yang baik, menurut ayat di atas adalah:
Al Qowi, yaitu kuat di dalam menjalankan tugasnya, dalam apa yang diurusnya. Kekuatan disini mencakup kekuatan ilmu, profesional dalam bidangnya, sebagaimana kata ”Alim” dalam surat Yusuf.
Al Amin, berarti orang yang bisa menjaga amanat, dan terpercaya. Ini sesuai dengan kata ”Hafidh” dalam surat Yusuf.

Jadi al-Qur’an disini mengungkap bahwa sebagian tanda orang yang disebut muslim atau mukmin adalah menjadi pekerja keras, profesional, jujur sesuai etika bisnis dan etika pekerjaan.

Indikator baiknya Islam kita, keberimanan kita diantaranya adalah “apakah kita profesional dalam pekerjaan kita.”

Kata Islam berasal dari bahasa Arab aslama, yuslimu islaman yang berarti damai. Dari namanya saja kita mengetahui bahwa Islam adalah agama yang bertujuan, punya peran dasar, memiliki prinsip kedamaian. Lalu bagaimana bila ada yang mengaitkannya dengan, mengapa ada perang dalam Islam?

Perang disampaikan hanya dalam kondisi tertentu, dalam kondisi terdesak atau umat Islam diserang. Dan itu dilakukan untuk mempertahankan diri, mempertahankan keislamannya, maka jihad perlu dilakukan untuk kebutuhan itu. Namun tetap, pesan dasar Islam yang paling kuat adalah damai.

Rasul pernah bersabda : “Al-Muslimu man salima al-muslimuuna min lisaanihi wa yadihi”, seorang muslim (siapapun dia orangnya) dan orang-orang Islam lainnya merasa damai dari kejahatan tangan dan lisannya, yang artinya pula yang di katakan orang muslim ialah orang yang tidak mengganggu orang lain, dia membawa kedamaian ditengah-tengah muslim lainnya.

[x_pullquote cite=”Dr. Ali Mursyid, MA” type=”left”]Namun tetap, pesan dasar Islam yang paling kuat adalah damai.[/x_pullquote]Lalu dalam hadits lain kita juga menemukan “dari Abdullah bin Amru bahwa seorang laki-laki bertanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Kamu memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal” (HR MUSLIM NO 56)”.

Jadi praktik keislaman yang baik adalah menguatkan pemberdayaan ekonomi, seperti yang tersirat pada hadits di atas, yakni memberi makan (تُطْعِمُ الطَّعَامَ) kepada orang yang tidak engkau kenal, memberi modal kepada mereka yang membutuhkan. Dan yang kedua adalah memberikan salam ( َتَقْرَأُ السَّلَام), itu artinya menebarkan kedamaian kepada orang yang engkau ketahui, misalnya karena satu agama, satu kantor, satu komplek. Dan memberikannya kepada orang yang tidak engkau ketahui.

Dan dalam sebuah ayat disebutkan pula “Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Ingat, disitu tidak disebut untuk menjadi rahmat bagi umat Islam, namun bagi semesta alam, bagi seluruh umat di dunia. Inilah sesungguhnya, pesan yang mendasar dari agama Islam. Ciri orang yang beragama Islam, tentunya apakah ia berbuat baik bagi orang lain.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Jadi beriman atau berIslam kita tandanya adalah, yang pertama : muslim melakukan kerja keras, yang kedua adalah muslim yang membawa kedamaian.


Disampaikan oleh Dr. Ali Mursyid, MA untuk Jumatan.org pada 28 Juli 2017 di Bellagio Mall, Kuningan, Jakarta

Jihad Melawan Korupsi

Dalam bahasa Arab, korupsi sering disebut dengan kata fasad, atau terkadang juga disebut ifsad. Fasad artinya ‘kerusakan’, sedangkan ifsad artinya ‘perusakan’ atau tindakan merusak. Korupsi disebut demikian karena memang dampak buruknya amat luas merusak sendi-sendi kehupan masyarakat dan bangsa.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah dengan tegas melarang kita melakukan perusakan, termasuk di dalamnya tentu saja korupsi. Allah berfirman, “Janganlah kamu melakukan perusakan di bumi setelah Allah membuatnya baik.” (QS al-A’raf: 56). Pada ayat lain, Allah menyuruh kita untuk berbuat sesuatu yang berdampak memperbaiki kerusakan. “Berbuat baiklah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang perusak.” (QS al-A’raf: ..).

Sebagian pakar, seperti Prof. Kuntjorodiningrat dan Faisal Ismail, menilai bahwa salah satu faktor penting yang membuat seseorang melakukan tindakan korupsi adalah ketidakmampuan menahan diri dan nafsu. Nafsu ingin berkuasa atau mempertahankan kekuasaan, dan hal itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, lalu seseorang ambil jalan pintas melakukan korupsi. Nafsu untuk menikmati dan mengikuti perkembangan gaya hidup yang materialustik-hedonis, seseorang akhirnya berani melakukan tindak korupsi.

Menahan, menahan diri dan menahan nafsu, dengan dapat dikatakan merupakan kata kunci dalam kita beragama.

– Menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan, padahal itu semua pada dasarnya boleh, merupakan bagian dari menjalankan agama yang kita kenal dengan istilah puasa.
– Menahan diri untuk tidak marah kepada orang yang bersalah, walaupun kita benar. Salah satu pesan penting Nabi saw. kepada sahabatnya, adalah “Jangan marah.!” Pada hadis lain, Rasulullah saw. juga berpesan, “Orang kuat atau orang tegas bukanlah orang yang bisa meninju atau memukul, orang kuat justru adalah orang yang mampu menahan diri ketika sedang marah.”
– Menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain, tetangga ataupun teman, sahabat ataupun kerabat, adalah bagian penting dari keberagamaan kita.
– Menahan diri untuk tidak berbohong atau menipu.
– Menahan diri untuk tidak mengambil hak orang lain secara tidak benar.
– Menahan diri untuk menerima apa pun pemberian Allah kepada kita. Dan sebagainya.

Jika demikian, maka sebenarnya pemberantasan korupsi dapat kita lakukan dari dan melalui diri kita sendiri. Semakin mampu kita menahan diri dari nafsu-nafsu tersebut, semakin besar kemungkinan kita untuk terhindar dari tindak korupsi. Semakin banyak orang yang mampu menahan diri dan nafsunya, semakin besar peluang kita untuk menekan angka korupsi di negeri ini.

Upaya-upaya memerangi korupsi dengan memberi sanksi hukum berat itu perlu, tetapi tidak kalah pentingnya adalah menahan diri kita masing-masing dari nafsu kekuasaan, hidup hedonus-materialistis. Semoga dengan begitu, tingkan korupsi di negeri ini benar-benar bisa kita tekan.


Disampaikan oleh Ust. Muhammad Arifin, MA untuk Bellagio Mall pada 21 Juli 2017.

Zakat Profesi

Kembali kita berkesempatan untuk bersyukur dan memuji Allah SWT. yang telah mengaruniakan kesanggupan dan kemauan untuk melaksanakan ibadah Ramadlan. Kita juga panjatkan salam dan salawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. yang telah mendapat amanah untuk menyampaikan dakwah Islam kepada umatnya.

Ramadlan adalah bulan ibadah, sebagaimana ibadah salat, umrah dan haji yang tergolong ibadah individual untuk mewujudukan ketaatan, kepatuhan dan kemauan untuk melaksanakan tuntunan-tuntunan Allah SWT. secara perorangan. Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa Rahmatan lil-Alamin juga diwujudkan dengan adanya kepedulian terhadap teman, kerabat dan orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, salat yang sifatnya ibadah individual guna bermunajat kepada Allah SWT. selalu diakhiri dengan salam. Ucapan salam pertama ke kanan, inilah sebuah isyarat setelah beribadah individual dilanjutkan dengan ibadah sosial. Wujud peduli, mendoakan saudara-saudara di sekitar kita. Dilanjutkan dengan mendoakan orang-orang di sekitar kiri kita. Itulah salah satu wujud ibadah sosial.

Salah satu ibadah yang bersifat sosial adalah zakat. Dalam al-Qur’an seringkali zakat disebutkan setelah salat; Wa Aqimus Salata wa ‘atuz zakata. Maknanya, laksanakanlah ibadah-ibadah yang bersifat individual, namun jangan lupa pula namun jangan lupa untuk melaksanakan ibadah yang bersifat sosial. Jika puasa ramadlan ini disebut sebagai ibadah individual, akan lebih lengkap dan sempurna jika diikuti ibadah sosialnya dengan berzakat. Zakat fitrah menjadi wajib bagi semua individu yang tergolong mampu, wajib mengeluarkan bahan pangan, jika untuk ukuran Indonesia dalam bentuk 2,5 Kg beras.

Selain zakat fitrah, juga ada zakat mal, yakni zakat dari harta yang kita miliki yang sudah mencapai haul selama 1 tahun. Dan rejeki itu melebih batas minimal, yang disebut nishab, yang setara dengan nilai 85 gram emas. Di dunia pertanian, juga ada zakat pertanian. Yaitu saat mereka panen dan panenannya melebih batas minimal nishab, sekitar 650 kg beras maka wajib dikeluarkan zakatnya. Bila sawahnya diairi dari irigasi yang menggunakan dana, maka zakatnya 5%. Bila diairi oleh air hujan tanpa biaya, maka zakatnya 10%. Inilah anjuran yang popular dianjurkan oleh Rasulullah SAW. dan satu lagi adalah zakat ternak.

Seorang ulama, Yusuf al-Qaradawi ketika memerhatikan fenomena masyarakat ternyata ada individu-individu yang memunyai profesi yang mampu menghasilkan rejeki dalam jumlah yang banyak. Misalnya, dokter, karyawan, insinyur, dan lain-lain. Penghasilan mereka terkadang bisa melebihi hasil yang dipanen para petani setelah 3 bahkan 4 bulan bercocok tanam. Karenanya, Yusul al-Qaradawi ber-ijtihad, jika petani menghasilkan 650 kg beras saja sudah wajib dizakati, maka bagaimana dengan para profesional? ijtihadnya kemudian dikenal dengan istilah zakat profesi.

Zakat profesi ini ada yang karyawan, penerima gaji setiap bulan, ada arsitek, menerima rejeki usai proyeknya selesai. Ada dokter, yang penerimaan permalamnya jika dikumpulkan dalam sebulan cukup banyak, maka golongan-golongan ini juga layak untuk diwajibkan berzakat, yakni zakat profesi. Zakat itu ada nishab, ada batas minimal penghasilan, ada waktu minimal yakni satu tahun. Namun golongan petani tanpa haul, tidak ada batas waktu 1 tahun. Setiap kali panen, meski baru 3 bulan, sudah masuk wajib zakat. Tiga bulan berikutnya panen, ia wajib zakat lagi. Sehingga mungkin, kewajiban petani bisa 3 hingga 4 kali berzakat. Dengan demikian, profesional-profesional yang kemungkinan mendapatkan rejeki lebih besar dari mereka, menurut Yusuf al-Qaradawi menjadi wajib dikeluarkan zakatnya.

Lalu berapa banyak untuk dizakati bagi para profesional ini? bila melebihi nishab, seharga 85 gram emas, jika dianalogikan satu gram emas senilai Rp. 500.000, maka akan terkumpul capaian Rp. 45.000.000 (empat puluh lima juta rupiah). Maka, ini wajib dizakati. Karyawan dengan penghasilan perbulannya Rp. 10 juta, dan pertahunnya menjadi Rp. 120 juta, maka disini ada 2 pendapat. Pertama, jika mencapai angka pendapatan tersebut maka ada zakat 2,5% minimal yang harus dikeluarkan zakatnya, yang senilai Rp. 3 juta.

Lalu ada pendapat kedua, gaji itu dikurangi terlebih dahulu dengan pengeluaran pokok sehari-hari, sehingga setelah dipotong tersebut masih mencapai nishabnya sebanyak 85 gram emas atau tidak. Jika masih mencapai lebih dari 45 juta rupiah tadi sisanya, maka menjadi wajib dizakati. Inilah yang menjadi perhatian dari Yusuf al-Qaradawi.

Tentu hal ini mendapati pro dan kontra. Namun jika ini dianalogikan dengan kaum petani yang bekerja keras dan perlu modal untuk bibit, pupuk, pekerja tambahan, perawatan, dan itu ternyata tidak diperhitungkan. Jika hal itu saja sudah wajib dizakati meski sudah mencapai 650 kg yang tadi sudah disepakati tanpa memperhitungkan modal. Sementara para profesional memang memerlukan modal awal, untuk menuntut ilmu. Hanya sekali di awal, berbeda dengan para petani yang selalu membutuhkan modal tiap kali memulai usahanya. Oleh karenanya, menurut Yusuf al-Qaradawi para profesional ini layak dikenai zakat profesi.

Nah, inilah ijtihad ulama, yang di masa Nabi Muhammad SAW. memang belum diungkapkan. Namun teriring perkembangan zaman, kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan pun maju pesat, dan berimbas pada profesi, tugas-tugas atau pekerjaan yang menghasilkan rejeki. Allah SWT. mengingatkan dalam surah at-Taubah ayat 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

Yang artinya : “Ambilah Wahai Nabi Muhammad dari umatmu sebagian dari rejeki mereka untuk mensucikan dan membersihkan harta dan jiwa mereka dan kemudian doakanlah mereka.”

إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ

Dan doa kamu akan memberikan ketenangan bagi hati kita.

Inilah dasar tuntunan Allah SWT. dan terkadang seseorang akan berpotensi menganggap rejeki yang mereka terima adalah jerih payah mereka sendiri. Lalu jika sudah didapat mengapa harus mengeluarkan zakat? Maka Allah SWT mengingatkan

wa fi amwalihim haqqun lis sa’ili wal mahrum : Orang-orang yang tidak akan merugi, orang-orang yang selalu taat kepada Allah SWT. adalah merka yang mengetahui dalam rejeki yang mereka peroleh ada bagian kecil yang bukan miliknya. Itu milik Allah, diamanahkan untuk diberikan kepada mereka yang berhak.

Tidak melaksakana amanah, apabila mereka tidak memberikan milik Allah kepada yang berhak. Ketika terakumulasi, bisa jadi Allah SWT. akan mengambil tanpa pemberitauan terlebih dahulu, mungkin juga yang diambil melebih titipan Allah SWT. yang tidak disalurkan kepada mereka yang berhak. Inilah teguran Allah SWT. dan bisa jadi sekali dua kali kita tidak merasa bahwa kita telah melanggar dengan tidak menyalurkan amanah-Nya. Oleh karena itulah zakat profesi itu akan sangat penting, sedangkan secara umum zakat, sedekah sangat perlu kita perhatikan karena itu merupakan kelengkapan dari ibadah Ramadlan yang kita laksanakan. Zakat disyariatkan dilaksanakan setelah ketetapan bulan Ramadlan ditetapkan sebagai bulan dimulainya berpuasa.


Disampaikan oleh Prof. Hamdani ANwar, MA untuk Bellagio Mall pada 16 Juni 2017.

Menilai Diri Menyambut Bulan Suci

AL KISAH
Pada suatu masa, Raja Iskandar Zulkarnain beserta pasukannya hendak berangkat menaklukkan suatu daerah. Pagi hari sebelum berangkat, Iskandar Zulkarnain berpesan kepada pasukannya:

“Dalam perjalanan, nanti malam kita akan melintasi sungai. Ambillah apa pun yang terinjak yang ada di sungai itu.”

Ketika malam tiba dan pasukan Iskandar Zulkarnain melintasi sungai, ada 3 golongan prajurit. Golongan yang pertama tidak mengambil apa pun yang terinjak di sungai karena yakin itu hanya batu. Golongan yang kedua mengambil alakadarnya yang terinjak di sungai, sekedar mengikuti perintah raja. Yang ketiga mengambil sebanyak-banyaknya yang terinjak di sungai sehingga tasnya penuh dan kepayahan meneruskan perjalanan karena penuhnya bawaan.

Setelah melanjutkan perjalanan dan tiba pagi hari, Iskandar Zulkarnain bertanya kepada pasukannya, apa yang kalian dapatkan semalam? Ketika para prajurit memeriksa tasnya, ternyata isinya intan berlian. Prajurit yang tidak mengambil apa-apa sangat menyesalinya. Prajurit yang mengambil ala kadarnya ada perasaan senang bercampur penyesalan. Prajurit yang sungguh-sungguh mengambil merasa sangat bahagia.

Cerita tersebut dikutip dari buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka.

Tidak lama lagi kita akan melewati Ramadhan.
Di dalamnya banyak sekali keberkahan.
Dan kita memiliki 3 pilihan.
Melewati Ramadhan tanpa mengambil keberkahannya sedikit pun.
Atau melewati Ramadhan dengan mengambil keberkahan ala kadarnya.
Atau melewati Ramadhan dengan bersungguh-sungguh mengambil keberkahannya, dengan cara memperbanyak ibadah dan amal kebaikan lainnya.

Ramadhan Kariim, semoga kita termasuk golongan yg mendapat magfirah, rahmah dan keberkahan Ramadhan 1438 H.

Rezeki dan Usaha

Sering kita temukan pertanyaan seperti ini “Pak Ustaz, saya sudah sering salat, sering pula berpuasa, rajin mengaji, rajin tahajud, namun mengapa urusan rezeki saya malah tidak lancar?”.

Ketahuilah, dalam lafaz basmalah, bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi, yang sering kita baca setiap harinya, Allah memberitahu kepada kita semua bahwa Allah memiliki sifat ar-Rahman dan juga memiliki sifat ar-Rahiim.

Ar-Rahman mudah diartikan sebagai Maha Rahmat, ar-rahiim juga Maha Rahmat, kata rahman dan rahiim berasal dari akar kata yang sama : rahmat. Departemen Agama menerjemahkan kedua kata tersebut dengan kata “kasih dan sayang’, lengkapnya ‘Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.’

Jika mengikuti pembentukan kata, maka kata ar-Rahman berarti ‘rahmat Allah yang Maha Besar’, begitu besarnya kasih sayang Allah maka Allah memberikannya kepada muslim dan non-muslim, Islam maupun bukan, memberikan sayang kepada yang taat kepada-Nya maupun yang tidak taat sekalipun.

Namun, sifat ini hanya berlaku di dunia saja. Maka sifat ar-Rahman ini, dalam konteks mencari keuntungan di dunia, sifat ini akan mendasari semua mereka yang punya keinginan kuat untuk mengejar dunia. Selama mereka mengelola manajemen bisnis dengan baik, menjaga keseimbangan pendapatan dan pengeluaran, menjaga komitmen usaha yang benar dan mengutamakan kepuasan konsumen, maka usahanya akan menemui kesuksesan. Inilah sifat ar-Rahman dari Allah SWT.

Terlebih, jika semua yang disebutkan tadi dilakukan oleh mereka yang taat kepada Allah SWT. Selain akan sukses di dunia, dia akan mendapat kasih sayang Allah SWT di dunia dan akhirat. Dan inilah kasih sayang Allah SWT yang kedua, yang disebut sebagai sifat ar-Rahiim dari Allah SWT.

Ar-Rahiim meliputi kata ar-Rahman juga, namun jangkauannya makin dalam, karena kasih sayangnya menjangkau tidak hanya di dunia, namun juga hingga ke akhirat kelak. Sesukses-suksesnya mereka yang sukses di dunia, batasan umur pun akan membayangi. Mereka tidak punya kuasa untuk tetap sukses tanpa ada batasan. Karena itu Allah menyatakan, bahwa kasih sayangnya tidak hanya berlaku di dunia, namun terus berlangsung hingga alam akhirat.

Karenanya, kita sebagai muslim, harus berusaha sekerasnya, berbisnis dengan sekuat tenaga, dan beribadah sebanyak-banyaknya kepada Allah, agar kelak kita juga mendapatkan kesuksesan berupa limpahan kasih sayang Allah SWT. di akhirat nanti.

Selanjutnya di ayat lain, Allah berfirman “Inna rahmatallahi qaribun minal muhsinin” (Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat untuk orang-orang yang muhsin.) Kata mushsin merujuk kepada mereka yang senantiasa hidupnya dalam tinjauan, atau senantiasa diawasi Allah SWT.

‘Iyyaaka Na’budu Waiyyaaka Nasta’in’, disini kata beribadah tidak hanya terbatas pada kegiatan amal salat, puasa, zakat, namun juga bekerja bisa dikategorikan sebagai ibadah. Artinya mencari rezeki yang halal, tidak menumpuk harta demi diri sendiri, namun untuk orang-orang disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Dengan kata lain, ayat ini berarti “Hanya kepadamu, aku bekerja ya Allah.”

Jika kita sudah bekerja sungguh-sungguh, maka doa berikutnya ‘iyyaaka Nasta’in’ menyiratkan bahwa kita ‘hanya kepadaMu aku meminta pertolongan’ terutama jika usaha kita pada akhirnya mentok di tengah jalan. Selalu ada tempat bagi kita untuk mengadu, mmendekatkan diri kepada pemilik seluruh alam raya, sebanyak kita melakukan salat, minimal 5 kali dalam sehari.

Ayat berikutnya dalam al-Fatihah : ‘ihdinas siratal mustaqim’ (berikanlah kamu Ya Allah, jalan yang lurus-atau bisnis yang sukses, yang tidak melanggar aturan agama).

Salah satu prinsip kesuksesan yang besar adalah JUJUR. Ayat berikutnya Shirathal ladzina an’amta alaihim (jalan yang lurus, bisnis yang benar, bisnis seperti halnya nabi Muhammad dan Nabi Sulaiman, yang tidak hanya sukses di dunia, namun juga sukses di akhirat). Ghairil maghdhubi’alaihim wa ladhdhallin (bukan jalan mereka yang Kau murkai ya Allah.)

Kata an’amta berarti setiap usaha kita tak lepas dari pertolongan Allah SWT. Sedang jika usaha kita mentok, tidak ada unsur kata amta disana, itu berarti bukan dari Allah, kitalah yang harus instropeksi diri dan usaha kita.

Disampaikan oleh Dr. Ali Mursyid, MA untuk Jumatan di Bellagio Mall Kuningan Jakarta pada 24 Maret 2017.

Ilmu dan Amal

Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Saat pertama kali Rasulullah SAW. diutus Allah, hal yang pertama disampaikan adalah pentingnya ilmu pengetahuan. Ilmu ini menjadi dasar, sekaligus pondasi seluruh bangunan kehidupan umat manusia. Ilmu pengetahuan adalah pondasi amaliyah, karena tanpa ilmu, amal perbuatan yang kita lakukan bisa jadi sia-sia. Pun sebaliknya, ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak ada buahnya. Karenanya, ilmu dan amal bagaikan dua sisi mata uang. Satu sama lain akan melengkapi.

Barangsiapa mengabdi kepada Allah, tanpa didasari ilmu, maka sejatinya efek negatifnya akan lebih besar dari efek positifnya.” Setan pun tidak berani terhadap mereka yang berilmu. Sebegitu besarnya kedudukan orang yang berilmu, seperti diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, satu orang yang berilmu (alim ulama) itu, godaannya jauh lebih sulit daripada 1000 orang ahli ibadah.”

Itulah mengapa ilmu menjadi kata kunci utama diterima atau ditolaknya sebuah amalan, khususnya amal ibadah kita. Di ujung surat al-Kahfi, Allah menegaskan kepada kita melalui firman-Nya :

fa man kana yarju likaa rabbihi fal ya’mal amalan salihan wa la yusrik bi ıbadati rabbihi ahada(ahadan)

Artinya: “Barangsiapa yang hendak bertemu dengan Allah SWT., kuncinya ada dua, yang pertama adalah amal soleh, dan yang kedua adalah tidak menyekutukan Allah SWT.” (QS. AL KAHF 18:110)

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana mungkin seseorang melakukan amal sholeh sekaligus tidak menyekutukan Allah, dengan tidak didasari oleh ilmu yang mendalam. Ini menegaskan bila ilmu menjadi kata kunci diterimanya amal sholeh yang kita lakukan.

Bagaimana konsep ilmu yang diperkenalkan Rasulullah SAW., khususnya al-Qur’an, maka ijikanlah khotib untuk menyampaikan beberapa inpirasi, beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari 5 ayat pertama yang terdapat dalam surat al-Alaq :

Iqro’ bismirobbikalladzi kholaq
Kholakol insaa na min ‘alaq
Iqra’ warobbukal akram
Alladzii ‘allama bil qolam
‘Allamal insaa na maa lam ya’lam

Kelima ayat ini setidaknya memberikan pelajaran kepada kita tentang konsep ilmu yang seharusnya kita pelajari sekaligus untuk diamalkan. Yang pertama adalah, kata iqro, yang berarti bacalah, ini mengandung perintah. Dalam kaidah tafsir disebutkan, jika ada kata perintah maka ini menuntut kuantitas. Jadi, menuntut ilmu itu dalam perspektif al-Qur’an hukumnya adalah wajib.

Lalu sebenarnya apa yang kita perlu baca, karena kata Iqro disini tidak menunjukkan obyek yang jelas untuk dibaca. Karena itu, mufassirin menyebutkan bahwa tidak disebutkannya obyek di dalamnya itu menunjukan bahwa yang harus dipelajari oleh umat manusia, khususnya umat Nabi Muhammad SAW. adalah seluruh obyek ilmu pengetahuan. Baik yang ada di dalam al-Qur’an itu sendiri, maupun yang terpapar di alam semesta ini.

Yang kedua, bunyi ayat ini adalah bismirobbik, mengapa langsung bacalah atas nama Tuhanmu? Disini mengandung pesan yang luar biasa. Ternyata konsep belajar dalam Islam itu harus berasal dari hati yang paling dalam. Yakni diniatkan dan diorientasikan hanya untuk Allah SWT., bukan ke yang lain.

Rasulullah SAW., bersabda “Barangsiapa yang menuntut ilmu, tapi tujuannya untuk menyaingi ulama, untuk mendebat orang-orang yang tidak mengerti/bodoh, atau untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang lain bahwa dia berilmu, maka sesungguhnya Allah akan memasukannya ke dalam api neraka.”

Inilah pentingnya niat dalam toyibul ilmi. Pelajaran ketiga yang bisa kita petik adalah, bahwa membaca dan belajar itu seharusnya dilakukan kontinyu, alias tanpa henti. Kita mendengar pepatah yang populer seperti, “tuntulah ilmu dari buaian ibu hingga masuk liang lahat”. Diulanginya kata iqro sebanyak dua kali dalam 5 ayat pertama ini menunjukan adanya konsep pendidikan sepanjang hayat, bahwa kontinuitas belajar itu tidak mengenal kata berhenti.

Pelajaran keempat yang bisa kita ambil adalah, ilmu pengetahuan itu bisa diperoleh melalui 2 jalur. Pertama ilmu yang diperoleh secara manual, yang biasa kita kerjakan sama halnya dengan mayoritas umat manusia lainnya. Seperti disinggung dalam ayat Alladzii ‘allama bil qolam, . Dialah Allah yang mengajarkan kamu dengan perantara pena -kalam itu artinya instrumen pembantu, misalnya buku, atau pendidikan formal. Yang kedua, ‘Allamal insaa na maa lam ya’lam, ilmu pemberian dari Allah. Dalam ayat yang lain disebutkan وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا (QS. Al-Kahfi : 65) “Kami mengajarkan ilmu laduni”

Ilmu laduni diungkapkan sebagai ‘Apabila seorang hamba mengamalkan secara ikhlas ilmu yang ida dapatkan, secara konsisten, Allah akan mewarisi ilmu yang sebelumnya tidak ia ketahui.’ Bahasa yang dipakai dalam hadis ini adalah waris, yang secara terminologi artinya didapatkan tanpa susah payah.

Itulah gambaran, mengapa ajaran Islam telah mengajari umat manusia secara keseluruhan mengenai pentingnya ilmu, dari hukum hingga cara mendapatkannya. Mudh-mudahan kita tergolongkan sebagai umat yang pandai mengamalkan o=ilmu.

Disampaikan oleh Dr. Ulinnuha, MA. pada saat menjadi khotib di Bellagio Mall Kuningan Jakarta pada 20 Januari 2017.

Ikhlas Pondasi Amal

Rasulullah SAW. mewariskan kepada kita 3 hal, yang pertama mutu, yang kedua sifat yang unggul, dan yang ketiga adalah kualitas. Salat Rasulullah SAW. adalah salat yang bermutu, yang disebut dengan khusyuk. Rasulullah adalah pribadi yang unggul, yang disebut dengan zuhud. Dan amal Rasulullah adalah amal yang berkualitas yang disebut dengan ikhlas.

Ikhlas dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting, karena ia merupakan pondasi bagi setiap amalan seseorang. Karena itu renungan Jumat ini adalah IKHLAS, PONDASI AMAL.

Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita renungkan, yang pertama adalah landasannya dalam al-Qur’an. Yang kedua kita akan memahami pengertian ikhlas, dan yang ketiga kita akan merenungkan mengapa ikhlas disebutkan sebagai pondasi amal.

Landasannya dalam al-Qur’an ada dalam surat al-Bayyinah(98):5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Dalam ayat ini paling tidak ada satu kaca kunci, مُخْلِصِينَ, (mukhlisina), asal katanya berarti murni setelah tercelup dalam kekeruhan (menurut Tafsir al-Mishbah). Karenanya menurut tafsir ini, ikhlas adalah memelihara hati agar benar-benar mengarah kepada Allah SWT. Inilah landasannya dalam al-Qur’an.

Lalu apa yang dimaksud dengan Ikhlas? dia berasal dari kholaso yang artinya murni atau jernih. Setidaknya ada empat arti ikhlas dalam bahasa Arab. Pertama, dia berarti Shofa atau jernih. Kedua naja atau selamat, Ketiga adalah Washala atau sampai dengan tujuan, dan keempat tajalla yang artinya memisahkan diri. Jadi rangkaiannya orang ikhlas adalah orang yang jernih, sukses dan selamat, orang yang sampai hingga tujuan hidupnya, dan orang yang memisahkan diri semata-mata menuju Allah SWT.

Lalu mengapa iklas disebut sebagai pondasi amal, setidaknya ada 4 alasan. Yang pertama karena ikhlas akan menentukan balasan atau ganjaran. Itulah mengapa Rasulullah SAW. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhori

Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Ini menunjukan bahwa niat itu akan menentukan balasan atau pahala. Dan itu juga mengapa iklas disebut sebagai pondasi amal. Yang kedua, mengapa disebut pondasi amal, karena ukuran kemurnian tauhid seseorang, dalam al-An‘a-m [6]: 162 disebutkan

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah bahwa sesungguhnya salat, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Seru Sekalian Alam.”

Lillah secara bahasa, sedikitnya ada 3 huruf lam. Yang pertama adalah lam karena alasan. Lillahi, maksudnya karena Allah. Lam kedua mengandung makna tujuan. Disini artinya untuk Allah. Sedangkan yang ketiga mengandung makna kepemilikan, disini artinya milik Allah.

Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku karena Allah, untuk Allah (memiliki kesadaran bahwa kita semua milik Allah) dan pada akhirnya kembali karena Allah. Itulah mengapa iklas itu ukuran kemurnian tauhid seseoarang karena Allah, untuk Allah dan kesadaran bahwa dirinya adalah milik Allah dan semua akan kembali ke Allah.

Alasan yang ketiga mengapa iklas disebut pondasi amal, karena yang dilihat Allah adalah hati dan keikhlasannya. Hadis nabi bersumber dari Abu Khurairah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ)). رواه مسلم

Artinya: Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Jelaslah bahwa Ikhlas adalah sesuatu yang dilihat oleh Allah SWT. Argumen ini juga menjelaskan mengapa ikhlas sebagai pondasi bagi amal seseorang.

Alasan terakhir adalah karena ikhlas menjadi ukuran seseorang beragama secara lurus, sesuai dengan surat al-Bayyinah ayat 5 tadi. Bergama secara lurus, ada 3 syaratnya; (1) menyembah Allah dengan ikhlas (2) mendirikan salat dan (3) menunaikan zakat, maka itulah agama yang lurus. Inilah ikhlas menjadi landasan amal.


Disampaikan oleh Drs. KH. Hasanuddin Ibnu Hibban, MA. saat menjadi khatib di Bellagi Mall Kuningan Jakarta pada 6 Januari 2016.

Akhlak Islam terhadap Non-Muslim

Sebagaimana kita ketahui, Allah adalah Esa, pencipta alam semesta dan makhluk. Makhluk yang diciptakannya beragam, banyak dan tidak terhitung. Dan masing-masing berbeda. Begitupun dengan penciptaan manusia, diciptakan dalam keberagaman. Berbeda suku, bangsa, bahasa, bentuk dan juga berbeda agamanya. Allah memang menghendaki perbedaan-perbedaan itu, agar harmoni dan terlihat indah. Juga agar terlihat mana yang beriman, dan mana yang kufur.

Allah tidak menginginkan semua manusia sama, meski bila dikehendaki niscaya hal itu mudah diwujudkan. Allah mengingatkan dalam salah satu firman-Nya :

شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ -٤٨-

“Seandainya Allah menghendaki, maka Allah akan menjadikan seluruh manusia ini sebagai umat yang satu, tapi ternyata tidak (Al-Ma’idah 48).”

Mengapa demikian? ada tujuan dan hal-hal yang ingin disampaikan, sesuai dengan firman-Nya :

“Yaa ai-yuhaannaasu innaa khalaqnaakum min dzakarin wa-untsa waja’alnaakum syu’uuban waqabaa-ila lita’aarafuu inna akramakum ‘indallahi atqaakum innallaha ‘aliimun khabiirun (QS. AL HUJURAT 49:13).”

Tujuannya adalah لِتَعَارَفُوا, sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Allah menjadikan kamu dari keturunan dari laki-laki dan perempuan, manusia yang berbeda-beda agar kamu saling mengenal, agar mau mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk agar mau memetik pelajaran demi kesejahteraan ketika hidup di dunia maupun di akhirat.

Karena itulah dibuat berbeda-beda, untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Kita sebagai umat muslim pun berdampingan dengan umat non-muslim. Hidup bersama dengan yang tidak seiman. Lalu apa tuntunan al-Quran terhadap orang-orang yang seiman sambil mengingat bahwa mereka juga ciptaan Allah.

Dalam menyikapi hal ini, kita diberikan 2 petunjuk yakni terkait akidah dan muamalah. Terkait hal yang pertama, akidah, maka yang layak dijadikan pedoman adalah لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (Lakum Diinukum wa Liya Diin). Karena itulah akhlak al-Qur’an terhadap non-Muslim adalah dalam masalah muamalah beda dengan masalah akidah. Dengan tegas berarti tidak saling mencampuri dan juga tidak saling menganggu.

Karenanya tidak dianjurkan bagi umat Islam untuk menjelek-jelekan, memfitnah orang lain yang tidak seagama. Allah mengingatkan dalam surat al-An’am : 108

“Janganlah kamu sekali-kali mencaci, mencela orang-orang yang beribadah kepada selain Allah. Karena kalau itu dilakukan, mereka akan membalas dengan rasa permusuhan, tanpa mereka mengetahui mengapa mereka berbuat demikian.” Inilah yang menjadi salah satu tuntunan pokok, tanpa kita -umat Islam- mencederai masalah keyakinan orang lain. Dan jika umat Islam diganggu, maka persoalannya menjadi lain.

Dalam masalah akidah, umat Islam dianjurkan masing-masing melaksanakan tuntunanya sesuai dengan ajaran dan keyakinan. Sedangkan bagian dari muamalah ada firman Allah dalam surat al-Mumtahanah:8.

“Allah tidak melarang umat Islam, untuk berbuat baik dan bersikap adil kepada siapa saja yang tidak seiman dengan syarat mereka tidak memerangi/menindas umat Islam dengan alasan keagamaan. Dan tidak mengusir umat Islam dari tanah airnya, maka Allah menganjurkan kepada siapa saja untuk berbuat baik. Yakinlah bila seseorang berbuat baik, maka kebaikan itu pasti akan kembali.”

Allah menganjurkan kepada siapa saja untuk berbuat baik. Bila mereka berbuat baik, maka kebaikan akan kembali kepadanya. Allah mengingatkan, salah satunya, dalam surat al-Isra:7.

“Wahai Umat Islam, apabila kamu berbuat baik, yakinlah kebaikan itu akan kembali kepadamu sendiri. Berbuat baik kepada siapa saja, kebaikan itu akan datang dari mana saja.” Sehingga ayat ini menjadi jaminan agar umat Islam tidak ragu untuk berbuat baik kepada siapa saja. Mengulurkan tangan apabila ada yang kesusahan, bila ini tertanam dalam diri kita, niscaya umat Islam walaupun beda alirannya, meski beda mazhabnya, tetap akan merasa sebagai saudara seakidah.

Tuntunan ini mengingatkan bahwa umat Islam tidak sendirian di dunia. Dalam bersosialisasi tetap memerlukan peran orang lain. Sehingga peran ini sangat tegas, yakni ‘siapapun dari kita umat Islam bila melihat hal yang tidak sejalan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah hendaknya segera meluruskannya.’ Ada 3 cara, yakni dengan tindakannya, dengan teguran yang santun, dan dengan hatinya/doanya. Sehingga tuntunan al-Qur’an ini memacu kepada rahmatan lil-alamin, bukan untuk menzalimi mereka yang tidak sejalan.


Disampaikan oleh Prof. Hamdani Anwar, MA saat menjadi khotib di Bellagio Mall Kuningan Jakarta pada 23 Desember 2016.

Akhlak Rasul dalam Keluarga dan Lingkungan

Marilah kita menjawa ketakwaan kita kepada Allah SWT. Bagaimana kita menjaga takwa ini, Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadits ‘at taqwa ha huna’, bahwa takwa itu di dalam hati. Mengapa? karena apa yang terkandung di dalam hatinya, itulah apa yang akan menuntun gerakannya.

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada”. Karena kepercayaan di dalam hatinya yang sanggup menggerakan anggota badannya ke jalan Allah. Kapanpun dah dimanapun ia berada.

Rasul adalah pribadi yang paling bertakwa kepada Allah SWT. Bila pengertian takwa tergolong akstrak, maka ada baiknya apabila kita menempatkan Rasul di dalam hati kita, ketika kita menghadirkan Rasul ke dalam keseharian kita, sudah pasti kita mendapatkan makna takwa kepada Allah SWT.

Di saat ini kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW., maka itu menjadi momentum yang paling berharga dalam hidup kita untuk mendekatkan diri dan meningkatkan pengetahuan kita akan Rasul. Dan tentu saja kita sebagai muslim, tidak bisa melalaikan kehadiran Rasul dalam kehidupan sehari-hari kita.

Memperingati Maulid Nabi tidak hanya seremonial belaka, ada substansi yang harus kita jaga dalam merayakannya. Yakni menjadikan Rasul sebagai uswah. Menjadikan ahlak dan budi pekerti Rasul ke dalam diri kita sepanjang hari, bukan hanya di bulan ini saja.

Inilah yang kita sebutkan dengan menghadirkan Rasul ke dalam keluarga dan lingkungan kita.

Allah SWT berfirman “Dan sekali-kali Allah tidak akan menurunkan mengazab mereka, sedangkan engkau (Muhammad) berada ditengah mereka. dan sekali-kali Allah tidak akan mengazab mereka sedangkan mereka terus menerus berISTIGHFAR”. (QS Al Anfal 33)

Ini juga menjadi tantangan kita, agar agaimana kita bisa mempraktikan akhlak Rasul kepada anak-anak kita, seperti apa yang dilakukan Rasul saat sebelum makan, atau sebelum tidur. Ini untuk menghadirkan adab Rasul kepada mereka.


Disampaikan oleh Dr. Umar Alhaddad,MA pada 16 Desember 2016 di Bellagio Mall, Kuningan Jakarta.