Agama dan Nilai-nilai Kemanusiaan

Agama dan kemanusiaan

Tidak kurang dari 100 kali, al-Qur’an berbicara tentang manusia. Ada banyak bahasa yang merujuk ke istilah manusia, baik dalam bentuk al-Insan, an-Nas, dam sebagainya. Ini menunjukan betapa tinggi perhatian al-Qur’an terhadap sisi kemanusiaan.

Allah SWT. berfirman “Wa laqod kholaqnal-insana min sulalatim min thin” (dan sungguh telah Kami ciptakan manusia dari saripati mani). Bahwa (pertama) makanan yang kita makan -bersumber dari tanaman- berasal dari tanah. Binatang yang kita konsumsi, juga berawal dari hewan yang mengonsumsi sesuatu yang berasal dari tanah. Selanjutnya makanan ini kemudian diproses, untuk kemudian diubah dalam bentuk lain yang diperlukan manusia untuk tumbuh dan bertahan.

Karena ini berhubungan langsung dengan keberlangsungan hidup manusia, maka kita juga sering dinasihati untuk mengkonsumsi makanan yang halal. Sebab dari makanan yang tidak halal, maka darah yang beredar di tubuh kita akan menjadi darah yang tidak halal pula. Jika diandaikan kita mengonsumsi makanan dari sumber korupsi, maka darah kita akan mengalir ke panca indra yang bisa bersifat koruptif.

Yang kedua, bahwa makanan ini akan berubah, sesuatu yang kita konsumsi akan berubah menjadi sperma.
Allah SWT. kemudian melanjutkan “Tsumma ja’alna – hu nut.fatan fi- qara – rim maki-n(in)” – kemudian makanan-makanan yang kita konsumsi ini akan menjadi sperma. Oleh karenanya, jika kita ingin mendapatkan keturunan yang baik, yang soleh dan solehah, maka makanan yang kita konsumsi hendaknya terhindar dari yang haram agar menghasilkan sperma yang baik lagi bersih pula.

Sperma dalam kurun waktu tertentu pun akan berubah menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging (QS Mu’minun 14), menjadi tulang belulang, kemudian Allah menutupnya dengan daging. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Infithaar:8 yang dalam waktu 4 bulan, terciptalah manusia yang utuh.

Manusia ini kemudian berkembang dalam rahim seorang ibu, kemudian ayat lanjutannya menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Sangat mustahil bahwa ayat ini buatan manusia, karena ilmu tentang janin baru berkembang di abad ke-20. Dan ternyata ayat ini tidak bertentangan dengan dunia kedokteran modern.

Allah SWT kemudian melengkapi manusia dengan kemampuan, potensi, ketrampilan, dan sebagainya. Diantara mereka ada yang berkecimpung di dunia bisnis, pendidikan, pertanian dan sebagainya. Untuk itu Allah SWT mengingatkan agar kamu sekalian mengingat akan asal sumbernya.

Di bagian lain manusia juga dibekali dengan ilmu pengetahuan, dan semua potensi-potensi ini adalah anugerah Allah SWT. Andaikata kita gunakan seluruhnya di jalan Allah SWT, baik harta, ilmu pengerahuan, semuanya adalah milik Allah SWT dan hendaknya digunakan sebesar-besarnya di jalan-Nya. Karena Allah SWT telah mengingatkan dalam QS. Ali Imran:185
Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian. Dan sesungguhnya kelak pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasan atas pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia adalah orang yang beruntung”.

Lalu apakah kehidupan kita hanya berujung pada kematian? Allah SWT berfirman semua manusia akan dibangkitkan untuk dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah SWT. (Penasihat yang paling baik adalah kematian). Lalu Raulullah SAW. mewasiatkan kepada kita bahwa matinya seseorang tergantung kepada kebiasaan hidupnya, dan akan dihidupkan sesuai dengan keadaan matinya.

Oleh karens itu sebagai manusia hendaknya kita mengetahui arti tujuan hidup kita. Al-Qur’an adalah tuntunan, mudah-mudahan Allah SWT selalu mengingatkan kita untuk kembali dalam kondisi yang baik pula.


Disampaikan oleh Khatib Mukhrij Sidqy, MA pada 2 Desember 2016.

Aktualisasi Nilai-nilai Kepahlawanan dalam Konteks Kekinian

kepahlawanan

Tujuhpuluh tahun sudah Indonesia merdeka. Dengan gagah berani, para pejuang bangsa ini merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Masa perjuangan di paruh tahun kedua 1940-an memberi kita teladan legendaris yang tetap abadi dalam kenangan kolektif bangsa Indonesia. Peristiwa heroik 10 November 1945 menjadi simbol kegigihan dalam berjuang, yang kita peringati sebagai ungkapan rasa syukur, sambil berdoa semoga Allah menerima dedikasi mereka terhadap bangsa dan tanah air Indonesia. Kita bukanlah bangsa yang lupa akan jasa-jasa para pahlawan di masa lalu. Rasulullah saw., pun selalu mengenang jasa para sahabatnya yang gugur sebagai syuhada pada perang badar, sebuah peperangan yang menjadi tonggak kemenangan yang hak atas yang batil.

Para pahlawan bukan hanya hidup dalam ingatan dan kenganag, tetapi mereka benar-benar hidup di sisi Tuhan; selalu merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (١٦٩)
فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٧٠)

Satu hal yang tidak terbantahkan, pada zaman penjajahan, para ulama dan umat Islam menggelorakan semangat juang membela negara.Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada beberapa ulama dan tokoh Islam adalah bukti nyata betapa umat Islam yang dipimpin para ulama mempunyai andil dan kontribusi besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Semangat nasionalisme dan cinta tanah air yang mendorong umat Islam Indonesia berjuangan merebut kemerdekaan dan mengisinya dengan pembangunan bersama komponen bangsa lainnya, didasari pada persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah insaniyyah dan wathaniyyah). Kita memang berbeda dan beragam agama, suku bangsa, bahasa dan warna. Tetapi kita semua, umat manusia, sama-sama berasal dari satu bapak dan ibu, yaitu Adam dan Hawa, sehingga kita semua bersaudara dan harus menjalin silaturahmi.

Keterpanggilan para ulama dan umat Islam untuk terlibat aktif dalam bela negara dilandasi pandangan bahwa membela negara, selain karena merupakan kebutuhan/keharusan dalam hidup (dharurah hayatiyyah), juga karena bela negara adalah kewajiban agama (dharurah/wajibah diniyyah).

Secara fitrah, manusia terlahir cinta tanah air, sebab disitu ia dan nenek moyangnya dilahirkan dan dibesarkan. Di situ pula ia berinteraksi dengan manusia lain dalam kehidupan bermasyarakat. Sangat wajar kalau seseorang memeiliki keterikatan dengan tanah tempat kelahirannya, sehingga merasa rindu ketika bepergian atau lama meninggalkan kampung halaman. Keterikatan secara fisik dan emosional melahirkan loyalitas dan komitmen yang dengan dengannya seseorang rela mengorbankan segalanya demi membela tanah air.

Dalam tradisi umat Islam sangat populer ungkapan hubbul wwathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Meski itu bukan hadis Nabi yang sahih (mawdhu‘), tetapi makna dan substansinya sejalan dan sangat dianjurkan oleh agama (masyru‘). Paling tidak bila dilihat dari beberapa hal berikut:

Pertama: Agama mengenalkan konsep istikhlaf fil ardh dan al-tamkin li al-din. Allah berfirman:

وَعَدَ اللهُ الَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى‏ لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَني‏ لا يُشْرِكُونَ بي‏ شَيْئاً وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ (An-Nuur ayat 55)

Bumi, bahkan alam semesta diserahkan kepada manusia sebagai amanat Allah yang harus dijaga dan dipelihara, sebagai tempat pengabdian dan beribadah kepada-Nya. Tanah air tempat kita menetap adalah tempat kita menjalankan ajaran agama. Membela dan mempertahankan tanah air adalah bagian dari upaya penegakan agama. Tidak terbayang, bagaimana sebuah masyarakat menjalankan syariat agama dengan baik di tengah negara yang tercabik-cabik,hancur porak poranda.

Kedua: Rasulullah adalah sosok yang sangat cinta tanah air. Kecintaan beliau kepada tanah kelahirannya, Mekkah, dapat dilihat dalam beberapa hal berikut:
– Doa yang selalu beliau panjatkan, yaitu:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
Ya Allah, tumbuhkan kecintaan kami terhadap Madinah seperti kecintaan kami terhadap Mekkah, bahkan lebih.(HR. Al-Bukhari).
– Ungkapan rasa rindu kepada Mekkah;
Kecintaan terhadap tanah air yang bersifat fitrah ini mendapat respons positif dari Allah, dengan menurunkan wahyu yang menginformasikan bahwa Allah berjanji mengembalikan beliau ke kota Mekkah.
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚقُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an, benar-benar akan mengemablikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata”.

Semangat bela negara dan cinta tanah air yang telah ditanamkan oleh para ulama hendaknya terus kita pertahankan. Lebih -lebih di era modern seperti saat ini. Indonesia boleh jadi saat ini masih terhindar dari perang fisik yang bersenjata, seperti yang terjadi di negara-negara lain. Tetapi itu tidak berati indoesia sedang tidak terancam perang yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

Perang di era modern saat ini tidak lagi antara pihak-pihak yang bermusushan secara lagsung, adu fisik dan senjata, karena kepentingan tertentu, tetapi dapat menggunakan pihak lain untuk mewujudkan kepentingannyatersebut. Itulah yang disebut proxy war Perang saat ini bisa dalam bentuk perang pemikiran (al-ghazwul fikriy) atau perang kebudayaan (al-ghazwu al-tsaqafiy). Atau perang asimetris yang memanfaatkan kerusuhan ekonomi, konflik etnis dan melemahkan semnagat nasionalisme, untuk meguasai sebuah negara.

Apa yang sedang terjadi di beberapa negara Timut-Tengah saat ini (Irak,Suriah,Libya,Yaman) menjadi gambaran perang modern yang sedang terjadi. Konflik tersebut jangan hanya dilihat sebagai konflik antara rezim penguasa dan pemberontak/rakyat negara setempat, tetapi itu sebenarnya perang antara beberapa negara yang memiliki kepentingan di negara tersebut. rasulullah sudha pernah mengingatkan terjadinya perang semacam ini.

Globalisasi di berbagai bidang;politik, ekonomi, budaya tidak bisa dibendung. anyak dampak positif yang dihasilkan, tetapi tidak sedikit pula dampak negatif yang dirasakan oleh negara-negara terbelakang dan berkembang dalam bentuk hegemoni negara-negara Barat/maju. Batas-batas geografis bukan penghalang masuknya pengaruh luar. Langit-langit sebuah negara juga dengan mudah diteroos karena revolusi di bidang informasi dan telekomunkasi. Pengerahan massa melalui media soaial untuk sebuah aksi di sejumlah negara terbilang efektif, dilakukan secara masif, seperti yang terjadi saat Arab Spring di Timur-Tengah 5 tahun yang lalu, dan yang terakhir aksi damai 411 di Jakarta. Boleh jadi kita tidak tahu siapa aktor utamanya. Bukan tidak mungkin, adu domba sesama anak bangsa dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda tersembunyi melalui media sosial.

Tidak sedikit negara tyang tergilas, bahkan nyaris gulung tikar, tidak berdaya karena dampak pasar bebas. Belum lagi suguhan konsep-sonsep idiologi Barat yang membuat semakin tidak berdaya, kecuali tunduk pada keinginan negara-negara kuat. Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah damak globalisasi di bidang budaya. Telah terjadi westernisasi (pembaratan) dalam semua lini kehidupan. Gaya hidup dan cara berpikir masyarakat ikut berubah. Bahkan kita diminta untuk mendidik generasi muda kita seperti yang mereka inginkan. Padahal setiapnegara emiliki nilai-nilai luhur yang disebut kearifan lokal. Pelemahan generasi muda dilakukan melalui perang candu dan narkoba.

Kita harus meningkatkan kesiapan dan kewaaspadaan dalam rangka membela negara kita ini dari upaya beberapa pihak yang akan menggadaikan negeri ini dan menghancurkan mental bangsa ini.

Disampaikan oleh Dr. Muchlis M. Hanafi saat menjadi khotib Juma =t di Bellagio Mall Kuningan Jakarta Selatan pada 18 November 2016.

Patriotisme dalam Pandangan Islam

Hadirin, Jamaah Jumat rahimakulullah,
Pertama dan utama, mari kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt., seraya melaksanakan seluruh perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Mari kita haturkan keharibaan baginda Rasulullah saw., nabi akhir jaman, yang telah memberikan kita petunjuk sehingga kita mampu membedakan mana yang benar dan batil.

Hadirin rahimakumullah,
Presiden Soekarno pernah mengatakan : Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Oleh karena itu, momentum 10 November adalah momentum yang luar biasa bagi bangsa kita, bangsa Indonesia, dalam rangka untuk memperingati hari pahlawan.
10 November merupakan peristiwa yang sarat dengan makna dan pesan. Warisan terbaik yang diberikan oleh para pahlawan kusuma bangsa bukanlah politik ketakutan melainkan politik balasan. Bahwa seberat apapun tantangan yang dihadapi tidak akan melunturkan semangat perjuangan untuk mengisi kemerdekaan.

Hadirin rahimakumullah,
Semangat kepahlawanan adalah semangat persatuan. Semangat untuk membangun dan membentuk negara yang kita cintai ini. Pertanyaannya kemudian, apakah semangat kebangsaan dan semangat kepahlawanan yang setiap tahun kita peringati, masih ada di dalam sanubari anak negeri ini. Bila kita perhatikan, mungkin ada yang menjawab masih ada, dan mungkin ada yang menjawab sebaliknya.

Namun secara de facto memang banyak yang mengatakan bahwa patriotisme dan nasionalisme anak bangsa kita sedang diuji.

Hadirin rahimakumullah,
Di kesempatan khutbah Jumat ini izinkan khotib untuk memberikan beberapa tips agar bagaimana menumbuhkembangkan kembali semangat nasionalisme dan patriotisme bangsa.

Yang pertama, yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme tentu bukan lain adalah menanamkan rasa CINTA TANAH AIR. Untuk mewujudkan rasa patriotisme harus ada di dalam setiap individu bangsa, rasa cinta tanah air yang terwujud dalam mengisi kemerdekan sebaik-baiknya.

Cinta tanah air merupakan sebuah keniscayaan dan kebutuhan. Betapa tidak, manusia dilahirkan, tumbuh besar dan kelak dimakamkan di tanah airnya. Maka tidak berlebihan jika Nabi Muhammad saw., saat hendak hijrah dari Mekah. Beliau mengatakan sambil melihat ke arah kanan saat berhijrah sembari mengatakan “Betapa besarnya kota Mekah, betapa besar cintaku kepadamu dan seandainya kaumku tidak mengusirku niscaya aku tidak akan tinggal di kota selain mu“.(hadis diriwayatkan Tarmidzi)

Cerita diatas merupakan sekelumit kegalauan nabi sekaligus menunjukan betapa beliau mencintai tanah kelahiran dan tanah airnya. Bahkan ketika beliau tinggal dan menetap di Madinah, tetap beliau berdoa “Ya Allah Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku cinta, agar aku bisa mencintai Madinah seperti aku mencintai Mekah, atau bahkan lebih.”

Ini menandakan bahwa siapapun orangnya, masa sudah seharusnya memiliki ikatan batin dan ukhuwah dengan tanah kelahiran dan tanah airnya.

Hadirin rahimakumullah,
Dalam konteks Indonesia, cinta tanah air bahkan bisa kita wujudkan misalnya dengan mencintai dan membeli produk-produk dalam negeri. Berinvestasi di dalam negeri, taat kepada hukum, menjaga ketertiban-kebersihan dan menjaga keamanan lingkungan. Ini adalah beberapa hal dari wujud rasa cinta kita kepada bangsa yang sama-sama kita cintai ini.

Yang kedua, yang kita bisa lakukan untuk membentuk patriotisme dan nasionalisme adalah kita harus kembali meneguhkan diri kita agar mau berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

Peristiwa 10 November adalah peristiwa pengorbanan anak bangsa melawan penjajah dengan persenjataan yang apa adanya. Bambu runcing adalah semangat sederhana dalam mempertahankan kedaulatan yang terus digelorakan pada saat itu. Pertanyaan sekarang adalah, tidak ada lagi musuh yang dihadapi oleh pejuang-pejuang kita sebelumnya. Kendati demikian, di era moderen ini imperialisme dan penjajahan itu masih nampak.

Oleh karena itu, marilah satukan tekad, satukan semangat untuk memerangi musuh modern saat ini yakni kemiskinan, kebodohan dan kezaliman. Bukankah baginda Muhammad saw., saat berada di Mekah beliau bersabda jika hampir saja kemiskinan bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kekufuran. Itulah sebabnya kemiskinan harus kita berantas dari negeri kita ini dan bahkan dari muka bumi.

Karenanya, upaya-upaya yang disediakan oleh agama dan negara kita patut kita dukung. Ada zakat, infak, sedekah dan pajak itu merupakan instrumen dari pendistribusian materi. Agar kekayaan tidak dimonopoli oleh segelintir orang.Inilah filosofi dari terbentuknya kehidupan sosial yang adil dan merata.

Hadirin rahimakumullah,
Bukankah ayat yang pertama diturunkan kepada Baginda Muhammad saw., adalah yang memerintahkan untuk membaca. Iqro, artinya bacalah. Ini artinya ada indikasi sangat kuat bahwa kebodohan harus dihilangkan dari muka bumi. Oleh karenanya sangat kita ingin menghidupkan nasionalisme dan patriotisme, maka kebodohan adalah hal yang harus kita lawan. Dan melawannya dengan perbanyak membaca dan membuka ilmu pengetahuan.

Hadirin rahimakumullah,
Yang ketiga, hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan patriotisme dan nasionalisme adalah menempatkan persatuan, kesatuan dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Persatuan, adalah ajaran luar biasa yang disampaikan oleh baginda nabi Muhammad saw. Bahkan al-Qur’an dan hadits nabi menginstuksikan pentingnya persatuan dan melawan perpecahan.

Dalam satu ayat misalnya Allah berfirman :”Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali agama Allah dan janganlah kalian semua tercerai berai.(Qs.surat 3:103)” Ayat ini mengindikasikan bila persatuan menjadi katalisator penting dalam membangun kerjasama.

Pertanyaan kemudian adalah, bagaimana cara kita untuk membangun bangsa kita saat ini? Yang pertama adalah mencari dan memperkuat PERSAMAAN sekaligus meminimalkan perbedaan.Sebagai kita ketahui, bangsa Indonesia ini terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan sebagainya.Niscaya jika kita hendak mencari perbedaan, maka perbedaan itu terlihat menganga, maka prinsip persatuan harus diutamakan. Perbedaan itu bisa dikikis jika kita mementingkan persamaannya. Persamaannya antara lain, kita sama-sama anak bangsa Indonesia, kita sama-sama umat manusia, kita sama-sama keturunan Nabi Allah Adam as., dan puncaknya adalah, kita sama-sama mahluk Allah swt.

Dan yang kedua, membangun TOLERANSI. Toleransi yang dimaksud bukan berarti membaur dan menyatu dengan orang atau pemikiran yang berbeda. Namun mampu menghargai dan menghormati pilihan orang lain, bahkan mereka yang jelas-jelas berbeda pandangan dengan kita. Hari ini, toleransi sangat mudah dikatakan, namun teramat sulit untuk diterapkan.

Oleh karena itu, mari kita sebagai bangsa,sama-sama mengedepankan ajaran toleransi yang begitu mulia. Harapan kita, agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar, bangsa yang disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Yang lebih penting, mari kita berdoa, agar bangsa kita dijaga oleh Allah swt., dari permusuhan, perpecahan dan dijadikan sebagai bangsa yang baldatun toyyibatun warobun ghofur, aamiin!

[Dr. Ulinnuha, MA.]

Penyakit Hati

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Hampir semua pembicaraan mengenai filsafat manusia, selalu diawali dari kejatuhan manusia dari surga ke bumi. Timbul pertanyaan : kenapa manusia diturunkan dari surga ke bumi?

Pertanyaan itu dengan cepat dijawab ‘karena manusia melanggar larangan Tuhan‘. Dalam kitab suci al-Qur’an, menyebut penyebabya sebagai ‘ada pohon yang tidak boleh didekati.’ Continue reading “Penyakit Hati”

Menjaga Amanah

Bapak-bapak, saudara-saudara Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kembali kita berkesempatan untuk bersyukur dan memuji Allah swt. yang senantiasa melimpahkan nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat kesehatan. Selain itu kita panjatkan salam dan salawat kepada Rasulullah Muhammad saw. yang telah mendapat amanah untuk menyampaikan dakwah Islam.

Sebagaimana kita yakini, bahwa Allah yang telah menciptakan alam semesta dan isinya, Allah pun menyempurnakan ciptaan-ciptaan-Nya. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam surat al-Baqarah ayat 29 :
Maka ciptaan di bumi ini, Allah naik ke langit, dan menyempurnakan fathulah itu menjadi 7 lapis. Dan Allah mengetahui segala sesuatu di alam kita ini.

Pertanyaannya adalah, setelah selesai penciptaan dengan semua yang tercipta terbentang di alam semesta, apa yang mesti dilakukan, jawabannya adalah : Pemeliharaan dan Perawatannya. Sebagaimana seseorang yang membangun gedung, bila gedung itu selesai,maka gedung itu harus dirawat, dipelihara agar selalu enak ditempati, indah dipandang dan nyaman sebagai hunian.

Dan itulah yang dilakukan Allah swt. terhadap alam semesta ciptaan-Nya. Alam inipun harus dirawat, dipelihara, agar tetap menjadi tempat yang indah bagi seluruh mahluk yang diciptakan-Nya. Agar nyaman pula menjadi sarana atau wahana kehidupan bagi penghuninya.
Jelas, Allah lah yang tetap akan merawatnya, sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat
‘لْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ’.

Kata rabbil ‘alamin ini berarti pemilik alam semesta. Dan alam semesta adalah benda materi, sedangkan sifatnya Allah non-materi. Dengan demikian pasti diperlukan hal-hal yang bersifat materi. Allah menawarkan kepada mahluk-mahluk ciptaan-Nya namun tidak ada satupun yang siap menerima.
Allah ungkapkan dalam surat al-Ahzab ayat 72 :
“إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا”
(Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.)

Lalu manusia mengambil kesediaan untuk melakukan tugas untuk merawat dan memelihara alam semesta. Lalu disinilah Allah kemudian mengkritik manusia, karena manusia belum tahu cara merawat itu semua. Manusia tidak memiliki pemahaman yang tetap bagaimana agar alam ini tetap layak menjadi tempat tinggal.

Karena itu Allah swt. berfirman ‘إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا’, sesungguhnya manusia itu melakukan sangat besar kesalahan. Namun, karena tidak ada mahluk lain yang siap, maka Allah swt. pun meletakan manusia sebagai pemegang amanah tersebut.

Firmannya dalam surat Al-Baqarah ayat 30,
Ingatlah ketika Allah berfirman kepada malaikat, wahai malaikat, sesungguhnya Allah akan menetapkan seorang khalifah di muka bumi ini, yang tugasnya adalah mewakili Tuhan dalam mengelola dan merawat bumi agar tetap indah menjadi tempat tinggal mahluk.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, bahwa baik Nabi Adam as., baik dia melakukan salah ataupun tidak, tempat tinggal Adam dan keturunanya adalah di bumi. Sehingga tidak tepatlah jika ada yang mengatakan andai saja Nabi Adam tidak berbuat salah maka kita sebagai anak keturunannya adalah di surga. Melanggar atau tidak, manusia tempatnya adalah di bumi.

Manusia, siapa saja dia, pasti mendapatkan amanah. Tentu masing-masing sesuai dengan posisinya dan keterampilannya. Masing-masing dari kamu semua adalah pemimpin. Dan masing-masing mesti bertanggung jawab kepada segala sesuatu yang dipimpinnya. Yang amanah pengelolaannya diserahkan kepadanya. Sesuai dengan potensi-potensi yang ada pada dirinya.

Dari sini dapat diketahui bahwa sesungguhnya manusia adalah pengemban amanah dari Allah swt. Seorang petani mengemban amanah untuk mengelola pertaniannya sebaik mungkin sesuai dengan aturan-aturan syariah dan sejalan dengan norma-norma kemasyarakatan.
Seorang pejabat, dia memikul amanah untuk melaksanakan amanah jabatannya sesuai dengan kemampuan dan sejalan dengan aturan-aturan yang telah ditentukan sehingga tidak ada seorangpun yang luput dari amanah Ilahi tersebut.

Dari situlah ungkapan Allah ‘dari jiwa manusia, jika telah disempurnakan kejadiannya, atau bentuknya, maka di dalam jiwa manusia tadi potensi fujur dan potensi takwa.’

Ini isyarat, bahwa sesungguhnya bahwa banyak manusia yang lebih sering mengikuti ajakan buruk ketimbang ajakan baik. Tak heran, jika banyak pula dari mereka yang diserahi amanat ternyata gagal karena ada godaan potensi fujur dalam dirinya. Seringkali amanah itu tidak disampaikan sebagaimana mestinya.

Seringkali amanah itu justru digunakan untuk kepentingan dirinya. Dan jika hal ini terjadi, maka kezaliman, penindasan, kerugian dan hal buruk lainnya mewujud. Dengan demikian, maka apapun amanah, baik untuk diri kita, atau dalam kehidupan bermasyarakat bernegara maka amanah dari Allah swt. mesti diperhitungkan.

Oleh karenanya sangat patut diresapi dan dimaknai pesan Rasulullah saw. kepada Abu Jahal ketika sahabat ini ditetapkan sebagai gubernur di wilayah Yaman. Pesan ini kemudian direkam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-nasawi.
Pesan beliau adalah :
Wahai umat, jangan pernah engkau lupa setiap selesai melaksanakan salat fardu, hendaknya ungkapkanlah doa, Ya Allah anugerahkanlah kemauan dalam diriku untuk selalu berzikir kepadamu, dan anugerahkanlah kemauan untuk terus bersyukur atas nikmat-nikmat, dan berikanlah kekuatan untuk selalu beribadah yang terbaik kepada-Mu.

Seseorang yang selalu berpikir, hatinya selalu menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh Allah. Yang muncul adalah keinginan-keinginan untuk berbuat baik. Untuk melakukan hal-hal yang sesuai tuntunan Allah. Oleh karenanya, tampaknya ayat-ayat al-Qur’an dan sunah rasul ini bisa kita jadikan pedoman saat kita semua mendapat amanah dari Allah swt.

Ingatlah, bahwa setiap pribadi mendapatkan amanah, dan yang mesti dilakukan adalah bagaimana melaksanakan amanah itu dengan baik. Yaitu selalu dengan diiringi berzikir kepada Allah, niscaya itu akan menjadi filter ketika melaksanakan amanat tersebut.


Disarikan dari khutbah Jumat di Bellagio Mall Kuningan Jakarta pada 14 oktober 2016 oleh khatib Prof. Dr. Hamdani Anwar, MA.

Perspektif Al-Qur’an tentang Kafir

Ma’asyiral muslimin wa zumrotal mukminin rahimakumullah,
Alhamdulillah Allah swt., melimpahkan kepada kita nikmat lahir dan batin sehingga kita dapat melaksanakan kewajiban kita kepada Allah swt., semoga nikmat ini langgeng sebagai tambahan ketaatan kita kepada-Nya.

Ma’asyiral muslimin,
Ijinkan khotib untuk memulai khutbah Jumat ini dengan mengutip sebuah statement dari seorang ulama Mesir kontemporer Syekh Muhammad Abduh. Beliau pernah menyebutkan ‘Apa yang kulihat dari kaum muslimin yang mayoritas, tapi minus nilai-nilai Islam. Dan aku melihat nilai-nilai Islam, tapi minus kaum muslimin.’ Continue reading “Perspektif Al-Qur’an tentang Kafir”

Semangat Hijrah untuk Perubahan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di hari Jumat yang penuh kebaikan dan keberkahan ini, kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt., sebab hanya dengan berbekal keimanan dan ketakwaan yang berkualitas kita akan memperoleh kebahagiaan dalam hidup di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu sangat wajar karena Allah swt., berwasiat kepada umat-umat terdahulu dan juga kepada kita umat Nabi Muhammad saw., agar terus selalu berkomitmen dan berpegang teguh kepada ketakwaan.

Saat ini kita telah berada di penghujung bulan Dzulhijah dan ini berarti kita akan segera memasuki tahun baru Hijriyah 1438 H. Pada setiap awal tahun Hijriyah umat Islam di seluruh dunia, memperingati peristiwa hijrah.

Adalah Umar bin Khatab yang menetapkan pertama kali peristiwa hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, yaitu bertepatan dengan tahun 522 masehi. Peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah yang dilakukan oleh Rasulullah saw., dan para sahabatnya merupakan peristiwa sangat penting dalam sejarah penyebaran Islam.

Sebelum hijrah, umat Islam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Mekah tanpa memiliki kekuatan politik yang dapat melindungi kepentingan dakwah dan mempertahankan diri dari gangguan musuh. Setelah hijrah, penyebaran Islam tidak hanya di Jazirah Arab namun jauh melampaui dengan dukungan kekuatan yang dapat melindungi sampai pun jika harus berperang.

Dari sebuah ajaran yang awalnya bersifat lokal menjadi lebih bersifat universal. Hijrah memiliki pengertian yang disebutkan dalam al-Qur’an yakni perpindahan Nabi dan para sahabatnya dari kota Mekah ke Medinah tahun kedelapan Hijriyah sudah ditutup.

Keutamaan hijrah dan apresiasi yang diberikan oleh al-Qur’an kepada mereka yang hijrah secara fisik dari Mekah ke Madinah sudah tidak berlaku lagi. Rasulullah saw., mengatakan “Tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan kota Mekah.”

Meski demikian, aktualisasi makna hijrah dari yang semula berpindah secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain, menjadi perpindahan dari satu keadaan ke keadaan yang lebih baik, masih terbuka lebar dan masih terus diupayakan dalam kehidupan setiap muslim, kapanpun dan dimanapun. Tentu ini memerlukan perjuangan dan kebulatan tekad yang kuat.

Aktualisasi hijrah saat ini terasa perlu terutama saat realitas dan berbagai indek menunjukan bahwa umat Islam dalam keadaan terbelakang. Padahal umat Islam memiliki pedoman suci yang mendorong kepada kemajuan yang di dalam al-Qur’an dinyatakan sebagai umat yang terbaik yang ada dalam sejarah umat manusia.

Secara bahasa, hijrah itu berasal dari bahasa Arab dengan akar kata هـ ج ر (di baca Ha Ja Ra) . Memiliki makna dasar yang bermakna memutus, dan mengencangkan. Hijrah dimaknai pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, karena orang yang berhijrah itu memutus hubungan dengan meninggalkan tempat tersebut dan berpindah ke tempat lain.

Menurut pakar bahasa al-Qur’an, Raqib al-Isfahani, al-Hajr berarti meninggalkan sesuatu atau seseorang baik secara fisik, lisan, maupun hati. Kata ini, terkadang bisa dimaknai meninggalkan tempat secara fisik, yaitu meninggalkan sebuah tempat dan berpindah ke tempat lain, dan bisa pula dimaknai secara batin, yaitu meninggalkan dan menolak hawa nafsunya.

Kalau kita melihat di dalam al-Qur’an, kata hijrah dengan berbagai derivasinya, itu terulang sebanyak 31 kali. Dan al-Qur’an lebih banyak menggunakannya untuk makna perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, sebagai upaya menghindari penyiksaan yang merajalela, kesesatan dengan ketidakmampuan melawannya, untuk mencari tempat yang tenang dan aman.

Karenanya, hijrah tetap terbuka sepanjang jaman, selama kezaliman yang memaksa sebagian orang meninggalkan sebuah tempat demi mempertahankan keyakinannya tetap ada di muka bumi ini.

Di dalam al-Qur’an, kata hijrah itu sering disebut bergandengan dengan kata iman dan jihad . Ini menunjukan bahwa hijrah menunjukan perlawanan terhadap berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan, merupakan buah dari keimanan yang tulus dan sejati.

Seorang muslim yang baik, pasti tidak akan pernah tinggal diam menyaksikan berbagai kezaliman dan penindasan, terutama kepada kaum lemah. Penyebutannya yang diiringi kata jihad menunjukan bahwa hijrah memerlukan perjuangan dan pengorbanan.

Dalam sejarah kemanusiaan, hijrah itu adalah sunatullah,dan biasa dilakukan oleh para nabi di masa dahalu dalam melaksanakan dakwahnya. Mereka biasa meninggalkan kampung halamannya dari satu keadaan dengan memutus hubungan dengan tempat dan keadaan tersebut saat jalan dakwah tertutup.

Nabi Ibrahim misalnya, pernah berhijrah dalam dakwahnya dari Babylonia, tempat ia lahir dan dibesarkan, menuju beberapa tempat di tanah arab, ketika beliau sudah tidak berdaya terhadap ayahnya yang terlibat dalam melestarikan kemusyrikan dengan membuat patung dan tidak berkuasa menghadapi penguasa tiran yang pernah berusaha membakarnya dalam kobaran api.

Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, setelah dakwah secara terbuka dilakukan dan ancaman dari hari kehari semakin besar membuka kaum musyrik untuk mulai bergerak membendung,melakukan intimidasi, melakukan penindasan dan kekejaman. Dan guna menghindari hal ini, Rasul memutuskan dan mengijinkan pengikut-pengikutnya untuk mencari tempat yang aman.

Nabi dan para sahabatnya terpaksa meninggalkan kota Mekah, kota yang sangat dicintainya. Ini merupakan sebuah realitas obyektif kaum Muslimin yang tidak dapat menjalankan agamanya dengan baik. Sehingga mereka memutuskan untuk memulai hidup baru di pengasingan demi mempertahankan keyakinan.

Di sisi lain, hijrah juga merupakan bentuk pembebasan. Perhatikanlah, bagaimana Nabi Musa as., membebaskan kaumnya Bani Israil dari kekejaman dan penindasan Firaun.

Jadi esensi dari hijrah itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Yang berpindah dari satu tempat atau keadaan yang satu kepada tempat atau keadaan yang lebih baik. Hijrah dalam kehidupan manusia dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun oleh siapapun juga. Obyeknya bisa berupa tempat dan bisa berupa keadaan. Bisa dilakukan secara fisik atau material dan bisa dilakukan secara maknai atau spiritual.

Hijrah secara fisik atau materi untuk membentuk masyarakat Islam yang pertama dari Mekah ke Madinah ini sudah dinyatakan selesai dengan ditaklukan kembali kota Mekah pada tahun kedelapan hijriyah.

Muchlis Hanafi di Bellagio Mall

Disampaikan oleh Dr. Muchlis M. Hanafi,MA pada 30 September 2016 di Bellagio Mall, Kuningan, Jakarta.

Haji, Qurban dan Perilaku Kita

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Haji adalah salah satu kewajiban umat Islam, bagi yang mampu. Ibadah haji ini adalah ibadah fisik, yang menuntut kita untuk selalu dalam kondisi fit. Karena semua perilaku ibadah haji ini hampir 90 %nya adalah ibadah fisik.
Wukuf di Arafah ini hanya sekedar kita berada di padang Arafah. Tidak membaca apapun tetap sah haji kita. Di Mina, juga begitu, hanya sekedar berada di Mina. Tidak membaca apapun masih sah haji kita. Tawaf pun kita harus mengelilingi Kabah 7 kali, itu nyata kegiatan fisik kita. Tanpa membaca apapun, sah haji kita. Termasuk sa’i, berjalan dari Safa dan Marwah sebanyak 7 kali, itupun ibadah fisik. Yang jika kita tidak membaca doa apapun, tetap sah haji kita.
Dan yang terpenting adalah keberadaan kita di Saudi Arabia itu adalah ibadah fisik yang harus kita tunaikan dari negara kita menuju Saudi Arabia.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu maka ibadah haji ini harus diniatkan sejak kita masih dalam keadaan sehat wal afiat. Apalagi di negara kita yang antrian berhajinya sudah puluhan tahun, bahkan di beberapa daerah ada yang lebih dari 20 tahun. Di negara lain ada yang hampir 40 tahun antriannya. Jika tidak dari sekarang kita tidak menyetor setoran haji, maka beberapa puluh tahun lagi baru kita bisa berhaji.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullahh,
Hikmah dari ibadah haji ini adalah, yang pertama dan juga yang terpenting adalah, untuk menggugurkan dari dosa-dosa kita. Rasululloh saw. bersabda, ‘Haji yang mabrur, yang diterima Allah swt, tidak ada ganjarannya selain surga-Nya Allah swt.’ Haji dan umroh yang mabrur itu akan menghapuskan segala dosa-dosa, sebagaimana api dapat menghanguskan segala karat dari besi. Oleh karena itu, pada ibadah haji Akbar yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw. tersebut berdoa kepada Allah swt., ‘Ya Allah, ampunilah segala dosa mereka yang melaksanakan ibadah haji pada hari ini’.

Kemudian langsung dijawab oleh Allah swt. melalui malaikat Jibril, ‘semua yang berhaji pada hari ini akan diampuni, kecuali mereka yang zalim.’ Zalim disini diartikan mereka yang curang, mereka yang selalu merugikan orang lain, mereka yang suka mengambil harta/hak orang lain. Namun kemudian Rasul meminta kembali ‘Ya Allah, ampunilah mereka semua tanpa kecuali.’ Namun tidak diperkenankan oleh Allah, dan masih terus digantung jawabannya oleh Allah swt. Sampai hingga waktu beliau di Musdalifah, pagi-pagi sekali kala itu, Allah swt. berfirman ‘Aku ampuni semua mereka yang berhaji dan berumrah pada hari ini sekalipun itu orang yang menzalimi.’ Mendengarnya, Rasululloh saw. tersenyum lebar hingga memperlihatkan taringnya saking lebarnya.

Sahabat lalu bertanya ‘Ya Rasulullah mengapa engkau terlihat tersenyum begitu bahagia?’ Lalu Rasul menjawab ‘Kemarin aku berdoa pada Allah swt. agar diampuni dosanya mereka yang berhaji tersebut,namun Allah tidak mengampuni mereka yang zalim. Namun kali ini Allah menjawab dengan mengampuni semua dosa-dosa meskipun itu adalah bentuk kezaliman kepada orang lain. Walaupun itu adalah dosa sebesar apapun, itu akan diampuni oleh Allah swt, jika hajinya adalah haji yang mabrur. Maka pada saat itu aku melihat semua setan lari terbirit-birit, dan itulah mengapa aku tersenyum.’

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, maka pelaksanaan ibadah haji ini memerlukan ekonomi, keuangan, memerlukan pula kesehatan. Dan dengan kesehatan tersebut, kita dapat melaksanakan ibadah haji tersebut dengan sebaik-baiknya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Haji juga memerlukan kesabaran. Karena dengan sejumlah uang yang harus kita keluarkan tersebut ini juga menguji kesabaran kita. Dalam salah satu hadits Rasulullah saw. bersabda ‘Apabila ada orang yang dianggap mampu berhaji namun dia tidak berhaji, maka dia boleh meninggal dalam keadaan Yahudi atau Nasrani’. Artinya, apabila ada orang yang secara finansial sudah mampu membayar setoran ibadah Haji, maka hendaklah dia menyetorkan uang tersebut. Karena sudah lama sekali antrian di negara kita ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita doakan semoga ibadah haji dari negara kita menjadi haji yang mabrur, mudah-mudahan mereka sehat wal afiat sehingga dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya. Karena pahala ibdah haji yang mabrur itu tidak ada lain kecuali surga-Nya Allah swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Yang kedua, kita juga disunahkan untuk melaksanakan ibadah kurban. Kurban berasal dari kata koroba, yang artinya dekat. Kurban itu artinya mendekatkan diri kepada Allah swt. Kita sering mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara salat, zikir atau puasa. Tapi khusus untuk kurban yang satu ini, hanya berlaku pada tanggal yang ditentukan. Yakni pada tanggal 10 , 11,12 dan 13 Dzulhijah. Kita disunahkan berqurban dalam bentuk menyembelih baik itu unta atau sapi atau kambing atau domba yang diperbolehkan darinya berkurban.
Salah satu syarat untuk dapat melaksanakannya adalah ikhlas. Kita diperintahkan dalam rangka mendekatkan diri kita kepada Allah swt. terutama dalam kurban ini adalah dengan penuh keikhlasan kepada Allah swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullahh,
Ada beberapa kebiasaan kita dalam mengurbankan kambing tersebut yang mungkin kurang sesuai dengan tuntunan nabi kita Muhammad aw. Yang pertama, hendaknya ditajamkan pisau untuk menyembelih kurban tersebut. Ini tidak sesuai dengan hadits yang menyatakan ‘maka tajamkanlah mata pisau dan hendaknya dibuat nyaman kurban tersebut.’

Di dalam kitab-kita fiqih disebutkan bahwa sunahnya dalam menyembelih kambing itu dalam sekali jalan, dan paling lama tiga kali gorokan sudah harus terputus.

Kadang-kadang juga kita mengasah pisau kita di hadapan hewan kurban, hal ini jelas tidak sesuai. Karena tidak membuat nyaman. Atau misalnya kita menyembelih kambing tepat di depan kawanan kambing yang hendak menunggu giliran dipotong, itu juga tergolong tidak membuat nyaman kambing tersebut. Atau kadang malah mengulitinya di depan temannya, itu yang dalam kitab fiqih disebutkan untuk dihindari melakukannya. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw. ‘Hendaknya ditajamkan mata pisaunya dan dinyamankan kurbannya.’

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Yang ketiga, kadang-kadang setelah disembelih hewan tersebut, belum sampai mati, lalu dipotong kakinya, atau kadang dipotong bagian betisnya agar lebih cepat kematiannya. Ini sebagian ulama mengatakan, ini kalau hewan kurban ini meninggal karena dipotong kakinya tersebut, maka hewan itu termasuk bangkai dan haram baginya dimakan. Maka hendaknya dibiarkan terlebih dahulu setelah disembelih hendaknya dilepaskan dan dibiarkan hingga betul-betul tidak ada lagi nyawanya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kemudian dari daging kurban tersebut maka disunahkan kepada si pengurban tersebut untuk dikonsumsi dan dengan demikian maka kurban itu menjadi salah satu implementasi tingkah laku sosial kita kepada sekitar.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Yang terakhir adalah bahwa Allah swt. dan Rasulullah saw. telah mengagungkan bahkan meninggikan, menjadikannya sesuatu yang spesial 10 hari pertama di bulan Dzulhijah ini. Allah swt. dalam al-Qur’an bahkan sampai bersumpah demi 10 hari pertama pada bulan tersebut. Ini menunjukan bahwa 10 hari tersebut adalah hari-hari spesial di sisi Allah swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu amal sholeh yang paling bermanfaat atau paling tinggi nilainya di sisi Allah swt. selain puasa pada hari tersebut adalah bersedekah. Sedekah ini dapat menaungi kita di akhirat kelak, terutama dari kesulitan-kesulitan di hari akhirat nanti terutama dari teriknya panas di padang masyar nanti. Dan yang terakhir yang paling dicintai oleh Allah swt. adalah pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijah, yang biasa disebut sebagai hari tasyrik, disitu amal ibadah yang paling diridhai Allah swt. adalah menyembelih kurban.

Disampaikan oleh Dr. Syaerozi Dimyati,MA pada 9 September 2016 di Bellagio Mall, Kuningan, Jakarta.

Mensyukuri Nikmat Umur

Marilah di kesempatan yang penuh dengan berkah dan kebaikan ini, kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan takwa kita pada Allah SWT. Sebab dengan berbekal keimanan dan ketakwaan yang berkualitas kita akan memperoleh kebahagiaan dalam hidup di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, salah satu wasiat dan pesan Allah SWT. kepada umat manusia -kepada kita,kepada umatnya terdahulu- agar selalu meningkatkan dan menjaga kualitas keimanan kita kepada-Nya.

Agama meminta kita -sebagai umat beragama- untuk bertakwa setiap saat dan di setiap keadaan. Takwa dalam sebenar-benarnya, yaitu tetap teguh dalam kepasrahan secara total untuk menjalankan segala ketentuan Allah yang akan berbuah kebaikan dan kedamaian dalam diri dan lingkungan.

Lebih-lebih di saat seperti ini, di tengah konflik dan tragedi kemanusiaan, yang terkadang di bungkus dengan label keagamaan. Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 186 mengingatkan bahwa kita akan terus dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan baik dalam bentuk jiwa maupun harta. Dan kita akan terus mendengar dan menyaksikan hal-hal yang sangat menyakitkan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab, yang tidak menginginkan kedamaian.

Dalam situasi seperti itu al-Qur’an menyatakan :
Sekiranya kamu bersabar, sekiranya kamu bertakwa, maka itu adalah pilihan yang terbaik.”

Dalam menghindari ancaman, terorisme atau kekerasan lain yang mengatasnamakan agama, kita harus bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diperkenankan agama, sambil memikirkan langkah-langkah strategis untuk menciptakan kebaikan dan kedamaian bagi kemanusiaan.

Tidak terasa, hampir satu bulan waktu berlalu sejak kita memasuki tahun baru 2016, waktu berlalu dengan sangat cepat. Berlalunya waktu biasanya mengingatkan kita akan umur yang selalu bertambah, sehingga setiap kali berulang tahun, doa dan harapan yang disampaikan adalah ‘Semoga panjang umur.’

Begitulah, soal umur,kita selalu berpikir panjang dan pendek. Itu karena,dalam kamus kita ini yang ada hanyalah masa kini,masa lalu, dan masa depan. Sehingga banyak orang yang membiarkan umurnya berlalu begitu saja, seiring dengan begitu saja. Hanya sedikit yang berfikir ‘lebar’ dan ‘sempit’nya waktu, dalam arti bagaimana mengisi waktu dengan sebaik mungkin. Tanpa meninggalkan sedikitpun ruang yang kosong tanpa arti.

Umur adalah perjalanan waktu yang membatasi masa hidup manusia. Mulai dari ia dilahirkan sampai datang kematian. Umur adalah karunia terbesar dari Allah SWT. yang harus disyukuri dengan memanfaatkan waktu dalam kehidupa sebaik mungkin.

Tetap dalam kenyataannya, seperti dinyatakn dalam salah satu hadit Rasulullah SAW. “Tidak sedikit orang yang merugi, karena melalaikan dan tidak memanfaatkan dua nikmat karunia Allah SWT. yang pertama adalah kesehatan, yang kedua adalah waktu yang luang.(hadits sahih al-Bukhari)”.

Panjang dan pendeknya umur atau waktu itu adalah relatif. Saat sedang menunggu kedatangan sesuatu, atau seseorang yang dicintai, waktu yang hanya sesaat terasa begitu lama. Dan ketika yang dicinta itu tiba, meski telah berbincang lama, waktu tetap serasa beberapa saat saja.

Demikian pula kalau kita membandingkan antara umur mahluk-mahluk hidup ini. Umur kehidupan sangat bervariasi. Ada jenis binatang seperti lalat capung umur kehidupannya hanya berlaku dalam hitungan jam. Mulai dari telur,lalu menetas, sampai dia mati.

Ada yang usia harapan hidupnya antara 1-24 jam, ada pula yang hanya dalam hitungan minggu. Seperti lalat atau lebah yang memiliki usia harapan hidupnya 4 minggu.

Bagi kita yang masih hidup, membayangkan kehidupan saudara-saudara kita yang sudah berada di alam barzah, sejak puluhan, ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, terasa begitu lama.

Tapi tidak demikian bagi mereka yang merasakannya. Bagi mereka, kehidupan alam barzah yang akan berakhir dengan kedatangan hari kiamat, hanyalah sekejap. Sama saja dengan kisah azhabul kahfi yang ditidurkan atau dimatikan oleh Allah SWT. selama 300 tahun menurut perhitungan matahari, atau 309 tahun menurut perhitungan bulan, namun ketika dihidupkan kembali mereka merasakan baru beberapa saat saja.

Begitulah umur kehidupan di dunia ini. Sepanjang apapun umur manusia, pasti terbilang pendek dibanding umur mahluk lainnya yang lebih panjang. Segala sesuatu yang ada permulaannya, dan akan berakhir dengan kebinasaan atau kehancuran. Oleh karenanya, dalam pandangan Islam, kehidupan di dunia yang fana ini, tidaklah seberapa dibanding kehidupan akhirat yang dinyatakan dalam al-Qur’an sebagai kehidupan yang hakiki.

Hidup di dunia hanyalah sebentar, seberapa panjangpun usia kita. Maka merugilah mereka yang hidupnya hanya berorientasi pada keduniaan. Itulah ciri-ciri kehidupan orang kafir. Karena mereka tidak beriman akan keniscayaan hari akhir. Hidup bagi mereka hanyalah di dunia ini. Cuma mereka selalu mendambakan umur yang panjang, bahkan jika memungkinkan sampai ribuan tahun.

Di dalam al-Qur’an digambarkan : “Mereka begitu sangat bersungguh-sungguh untuk memperoleh kehidupan yang lebih panjang. Mereka itulah orang-orang yang musrik. Mereka mendambakan diberi umur panjang sampai 1000 tahun.”
Seorang mukmin, dalam mengisi kehidupannya tidak cukup hanya dengan berorientasi panjang dan pendek. Tetapi juga memperhatikan ‘lebar’ dan ‘sempit’nya.

Berorientasi pada lebar, itu artinya berorientasi pada ‘isi’ dan memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Tidak ada sedikitpun ruang waktu dalam hidupnya yang berlalu tanpa diisi dengan karya-karya yang bermutu.Tidak melangkah pada hari atau waktu berikutnya, kecuali telah memastikan semua terisi penuh manfaat.

Orang yang hanya berharap dipanjangkan umurnya agar terus mengharap kehidupan dunia atau hanya berorientasi pada panjang dan pendeknya umur, suatu saat pasti akan dikejutkan dengan datangnya kematian. Saat itulah berakhir hidupnya. Tetapi yang berorientasi pada lebar, hidupnya akan terus kekal, walaupun secara fisik telah tiada.

Terkadang, seseorang tidak berumur panjang, tapi ia mengisinya dengan sejuta manfaat. Maka ia akan terus dikenang sepanjang masa. Lihatlah kehidupan para ulama, semisal imam Shafi’i misalnya, beliau hanya hidup 55 tahun. Lahir tahun 150 H, wafat tahun 205 H,namun karena diisi dengan karya-karya berkualitas, maka pandangan dan pemikirannya amsih diikuti oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia hingga saat ini.

Imam Nawawi, seorang ahli fiqih dari kalangan mazhab Syafi’i umurnya hanya 45 tahun. Tetapi karya-karyanya seperti Al-Arba’in An-Nawawiyah, Riyadhus Shalihin dan At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir tetap dikaji, ditelaah dan dipelajari hingga saat ini. Itulah yang disebut dengan umur yang berkah.

Apalah artinya berumur panjang jika tidak meninggalkan manfaat dan kebaikan bagi orang lain. Di dalam al-Qur’an,waktu diungapkan dengan kata ‘وَٱلْعَصْرِ’

Al ashr, secara bahasa berarti perasa. Minuman sari buah, atau jus, dalam bahasa Arab disebut ‘Asiir, karena sari buah tersebut diperoleh setelah diperas. Dengan demikian, waktu yang diungkapkan dengan kata al-ashr, itu adalah sesuatu yang harus diperas, agar menghasilkan kerja-kerja yang berkualitas.

Oleh karenanya, dalam surat al-Ashr, disebutkan tidak akan merugi mereka yang mengisi waktunya dengan keimanan, dengan amal soleh, dengan kepedulian sosial yang ditunjukkan dengan saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Marilah kita isi waktu dan umur hidup kita yang singkat ini dengan sebaik mungkin, agar tidak menyesal, agar tidak merugi di kemudian hari. Karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Dalam kitab hiyatul aulia, ada ulama yang berpesan bahwa setiap hari waktu itu sebenarnya menyapa kita. Disitu digambarkan “tidak datang suatu hari kepada anak Adam kecuali dia berseru dan menyapa ‘Wahai Anak Adam, aku adalah ciptaan baru. Nanti aku akan menjadi saksi atas setiap kejahatan yang kau lakukan, maka isilah Aku dengan kebaikan. Dan Aku akan bersaksi atas itu semua nanti di hari kiamat. Gunakan Aku, manfaatkan Aku karena ketika Aku berlalu, maka selamanya engkau tidak akan pernah mendapatkan Aku, karena Aku tidak akan pernah kembali‘”.

Begitulah waktu menyapa kita setiap hari. Marilah kita isi waktu dengan sebaik yang kita bisa upayakan. Mudah-mudahan Allah SWT. memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita semua.


Disampaikan oleh Dr. Muchlis M. Hanafi, MA saat memberikan khutbah Jumat di Bellagio Mall Kuningan pada 29 Januari 2016.

Doa Intisari Ibadah

Para hadirin khutbah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt. yang telah memberikan kenikmatan kepada kita semua. Marilah kita tingkatkan takwa kita, mudah-mudahan Allah swt. senantiasa memberikan keberkahan, memberikan jalan, memberikan kemudahan kepada kita dalam menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hadirin, kaum mulimin yang dimuliakan Allah,
Salah satu tanda iman kepada Allah ialah bahwa kita percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam kehidupan ini adalah atas kehendak Allah swt. Allah menetapkan ketetapan bahwa setiap manusia harus berusaha, berikhtiar atas apa yang diinginkan, lalu mereka itu hendaknya menyadari bahwa apa yang kita inginkan dan kita citakan tersebut hanya akan terjadi sesuai dengan ketetapan Allah swt.

Seorang ulama berkata, “adalah wajib bagi setiap manusia untuk bekerja dan berusaha, berikhtiar untuk memperoleh apa yang diinginkan. Dan di dalamnya ia harus menyadari bahwa tercapainya apa yang kita inginkan tidak semata-mata tergantung sepenuhnya kepada usaha kita, melainkan atas kehendak-Nya.”

Oleh karena itu kita dituntut untuk berdoa memohon pertolongan Allah turun, lalu meyakini bahwa setiap doa itu dikabulkan apabila kita memenuhi syarat-syarat dan adab berdoa.

Diantara adab berdoa adalah bersungguh-sungguh dalam berdoa. Doa akan dikabulkan bila kita bersungguh-sungguh menyampaikan doa kita. Kita menyadai bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Allah.

Yang kedua dari adab berdoa adalah doa tidak berarti melepaskan diri dari usaha kita. Jika ingin mendapatkan harta, kita menempuh jalan dengan bekerja, misalnya berdagang. Kalau ingin mendapatkan ilmu, kita menuntut ilmu. Jika ingin sembuh dari penyakit, kita harus mencari obat dan ikhtiar dengan berkonsultasi ke dokter. Orang yang tidak bekerja dengan sungguh-sungguh tidak akan mencapai apa yang diinginkannya.

Salah satu sarana dalam berdoa adalah salat. Makna dari salat adalah doa. Bacaan-bacaan dalam salat seluruhnya bermakna doa. Begitupun gerakan-gerakan dalam salat berarti doa. Surat al-Fatihah yang kita baca pada setiap rakaatnya, terdiri dari puji-pujian dan doa. Empat ayah pertamanya adalah puji-pujian kepada Allah swt., tiga ayat berikutnya adalah doa, memohon petunjuk dan pertolongan.

Para hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kala kita sudah bersungguh-sungguh berdoa, hendaknya kita yakin bahwa Allah akan mengabulkannya. Makna ijabah, pengabulan dari doa tidak berarti harus harfiah. Tidak harus berarti apa yang diinginkan kita capai. Kata seorang ulama “Janganlah ditundanya pemberian Allah, padahal engkau bersungguh-sungguh berdoa, meyebabkan engkau berputus asa. Sesungguhnya Allah telah menjamin untuk mengabulkan doamu menurut apa yang dipilih-Nya untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih untuk dirimu serta pada waktu yang dikehendaki-Nya dan bukan oleh waktu yang dikehendaki olehmu“.

Yakni, Allah mengabulkan doamu tidak berarti Allah memberikan segala sesuatu secara harfiah diminta olehmu sebab tidak semua yang diinginkan manusia itu merupakan kebaikan.

Allah berfirman yang artinya “Barangkali kau membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan barangkali kau menyukai sesuatu padahal ia tidak baik bagimu.”

Arti dari ijabbah, pengabulan suatu doa adalah Allah memberikan kebaikan kepada hambanya. Bila Allah mengabulkan doanya artinya Allah memberikan sesuatu kebaikan baginya sesuai dengan ilmu Allah. Maka Allah memberikanmu apa yang dipilih-Nya untukmu, bukan apa yang dipilih oleh dirimu. Dan Allah memberikan sesuatu kepadamu pada waktu yang ditentukan-Nya bukan pada waktu yang dikehendaki olehmu. Barangkali Allah menunda pengabulan di dunia dan membalasnya nanti di akhirat.

Sebagai penutup khutbah ini, saya menyampaikan ucapan Al-Imam Ja’far As-Shodiq tentang orang-orang yang ditolak doanya oleh Allah swt.

Diriwayatkan bahwa Imam Jafar Shodiq berkata, bahwa ada 4 kelompok manusia yang ditolak doanya oleh Allah swt.;

Yang pertama orang yang duduk di rumahnya, sambil berdoa “Ya Allah, anugerahilah aku rejeki“. Maka Allah akan menyambut doanya dengan berfirman “Bukankah Aku telah memerintahkanmu untuk mencarinya.”

Yang kedua, seorang suami yang memiliki istri yang durhaka, sehingga dia mendoakan kebinasaannya. Maka Allah akan menyambut doanya dengan berfirman ‘Bukankah Allah sudah menjadikanmu sebagai pemimpin bagimu.’

Yang ketiga seorang yang tadinya memiliki harta lalu bangkrut karena keborosannya. Dia berdoa agar Allah menganugeri rejeki, dan Allah akan menjawabnya dengan berfirman “Bukankah Aku telah memerintahkanmu untuk hidup sederhana?, bukankah Aku telah memerintahkanmu untuk berlaku baik?“.

Yang keempat, doa seseorang untuk mencelakakan pengutangnya padahal ketika ia membuat transaksi tidak ada saksi, yang dijawab-Nya “Bukankah aku telah memerintahkanmu mempersaksikan setiap engkau melakukan transaksi.”

Setiap manusia wajib berusaha mencapai apa yang baik baginya tapi tidak semua yang diminta akan tercapai, melainkan dikehendaki oleh Allah swt.

Demikianlah beberapa tuntunan untuk berdoa kepada Allah, semoga bermanfaat untuk kita semuanya.


Disampaikan oleh Dr. Wahib Mu’thi, MA saat mengisi khutbah Jumat di Bellagio Mall Kuningan Jakarta pada 22 Januari 2016.